Battle of Britain (1940) – Kegagalan Jerman Menundukan Kekuatan Udara Inggris

Battle of Britain atau pertempuran Inggris Raya dikenal sebagai salah satu pertempuran udara paling besar selama Perang Dunia ke 2. Battle of Britain sebenarnya hanyalah salah satu bagian dari Rencana penyerangan Hitler ke Inggris yang dikenal dengan Operasi Seelowe (Singa Laut). Operasi tersebut direncanakan akan berlangsung pada lewat pertengahan tahun 1940. Tergantung dari tanggapan Inggris terhadap inisiasi damai yang dilakukan oleh Jerman.

Battle of Britain Map
(spitfiresite.com)

Luftwaffe mengerahkan kekuatan sebesar tiga armada udara (Luflotte) yang terdiri dari 963 pesawat tempur dan 1311 pesawat pembom, termasuk pembom jarak dekat Stuka. Kekuatan ini akan berbenturan dengan kurang lebih 800 buah pesawat tempur Inggris yang tergabung dalam RAF (Royal Air Force). Dengan jumlah yang superior, Jerman seakan-akan dengan mudah dapat menghancurkan kekuatan Inggris. Namun ketika operasi ini dimulai pada tanggal 12 Agustus 1940, nampaklah kelemahan yang sesungguhnya dari perencanaan operasi.

Operasi penyerangan udara yang oleh Jerman disebut sebagai Adlerangriffe (Serangan Rajawali) ini sebenarnya tidak disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Kemenangan-kemenangan Jerman sebelumnya di Polandia dan Perancis yang begitu menyilaukan mata dunia diperoleh karena persiapan yang matang berbulan-bulan sebelumnya. Operasi penyerangan ke Perancis misalkan, rencana itu telah digagas beberapa tahun sebelumnya. Rencana itupun mengalami berbagai revisi dan penyempurnaan hingga akhirnya von Maenstein memberikan sentuhan terakhir pada awal 1940. Namun rencana penyerangan ke Inggris baru dimunculkan sekiar Juli 1940. Satu bulan sebelum operasi dimulai!

Battle of Britain

Karena perencanaan yang begitu singkat, adlerangriffe dijalankan dengan begitu gegabah. Kegegabahan itu lebih dikarenakan karena perasaan superioritas kekuatan militer Jerman terhadap Inggris yang terlalu berlebihan. Banyak serangan-serangan udara yang tidak dikoordinasikan dengan baik. Misalnya, sebuah pengeboman oleh pesawat pembom jarak jauh tidak dikawal oleh pesawat tempur sehingga pesawat pembom tersebut menjadi sasaran empuk dari pesawat tempur Inggris. Perubahan taktik pengeboman juga membuat binggung para pilot. Pada awalnya serangan dipusatkan pada serangan taktis yang bertujuan untuk menghancurkan instalasi militer Inggris, namun seiring berjalannya waktu fokus serangan itu diganti menjadi serangan strategis yang menghancurkan wilayah sipil dan perkotaan, tidak berapa lama fokus serangan diganti lagi misal penghancuran tenaga perkapalan Inggris. Skenario serangan juga sering diganti dari pengeboman siang hari menjadi malam dan kemudian diubah siang kembali. Barangkali jika ditilik dari segi strategis, perubahan semacam itu perlu dilakukan. Hanya saja penggantian skenario serangan itu tidak direncanakan dengan baik sehingga ketika satu operasi belum selesai dilakukan, telah terjadi penggantian skenario serangan yang lain dan begitu seterusnya.

Banyak peneliti yang menimpakan kesalahan taktik ini kepada Hermann Goering. Seorang anggota partai NAZI yang menjadi chief of air dari Luftwaffe. Goering adalah pahlawan perang Jerman semasa Perang Dunia I. Ia bersama dengan Manfred von Richtofen (The Red Baron) adalah pilot-pilot legendaris di masanya. Seusai perang, Jerman dilarang untuk mempunyai angkatan udara. Dan kesatuan-kesatuan udara dibubarkan. Meskipun begitu Goering tetap berada di militer sementara waktu dan suatu hari bergabung dengan Partai NAZI. Ia menjadi suporter fanatik dari Hitler. Goering ditunjuk menjadi pemrakarsa dari pembentuk blue print dari angkatan udara Jerman yang baru ketika Hitler berkuasa. Dan di saat-saat inilah mulai timbul kebiasaan buruk dari Goering. Ia gemar sekali mengkonsumsi minuman keras dan opium. Perutnya mulai membuncit dan ia tidak terlalu fokus dengan pekerjaannya. Barangkali inilah penyebab dari kacaunya taktik operasi udara adlerangriffe. Meskipun tentu saja tidak hanya masalah ini yang menjadi bahan pertimbangan utama.

Kesalahan yang barangkali paling kentara adalah masalah VD – Victory Disease (Penyakit Kemenangan). Jerman sampai detik itu belum pernah sekalipun kalah dalam medan perang manapun. Bisa dikatakan juga bahwa Battle of Britain itu sendiri bukanlah sebuah kekalahan karena Jerman hanya gagal untuk menundukan kekuatan udara Inggris dan bukannya kalah. Kekalahan Jerman baru akan ada di babakan Perang Rusia, dua tahun kemudian di Stalingrad, hampir bersamaan dengan itu adalah kekalahan Jerman di Afrika Utara. Victory Disease menyebabkan tentara menjadi terlalu underestimates lawannya dan memandang rendah potensi kekuatan lawan. Inilah yang membuat pilot-pilot Jerman kemudian shock ketika melihat pilot-pilot udara Inggris yang ternyata juga jago bertarung di udara.

Bila ditilik dari segi militer semata, sebenarnya superioritas Jerman tidaklah begitu tinggi. Jumlah seluruh pesawat tempur Jerman hanya 900 – 1000 buah sementara pesawat tempur Inggris berjumlah 800 buah. Pesawat pembom saat itu praktis tidak mempunyai nilai serangan air to air yang signifikan. Soal pengalaman tempur, pilot Inggris dan Jerman bisa dikatakan sama-sama nihil. Hanya saja pesawat tempur Inggris mempunyai satu keungulan yaitu kecepatan. Pesawat tempur jenis Supermarine Spitfire mempunyai kecepatan maksimal 330 mph sementara Messerschimtt Bf 109 milik Jerman hanya mempunyai kecepatan maksimal 250 mph. Perbedaan kecepatan itu rupanya sangat signifikan dalam pertempuran udara. Terutama ketika pilot dihadapkan pada pertempuran dog fight, pertempuran kejar mengejar antara dua buah pesawat tempur.

Hasil akhir Battle of Britain berakhir dengan kegagalan besar di pihak Jerman. Ratusan pesawat Jerman baik pembom maupun tempur rontok, walaupun kerugian di pihak Inggris tidaklah kecil. Namun efek yang timbul bagi Jerman jauh lebih hebat daripada efek untuk Inggris. Inggris sementara itu masih dapat memperoleh suku-cadang dan pesawat-pesawat baru dari Amerika Serikat melalui perjanjian dagang yang kala itu belum sudi terjun ke kancah peperangan. Kerugian mereka dapat ditutup hanya dalam hitungan bulan. Sementara itu Jerman yang self produce kekuatan militernya hanya dapat berharap dari produksi dalam negerinya sendiri. Ketika Jerman menyerang Uni Soviet delapan bulan kemudian. Kekuatan udara Jerman tidaklah lagi seperkasa dahulu ketika mereka memulai invasi ke Perancis dan Polandia. Itu sebabnya pula Uni Soviet dapat memindahkan mesin produksi pabrik-pabrik mereka ke tempat yang lebih aman yaitu di Pegunungan Ural sebelum pabrik-pabrik itu sempat di bom oleh pembom Jerman. Untuk kemudian dapat memproduksi mesin militer yang kemudian digunakan untuk menghantam kekuatan Jerman di kemudian hari.

Pilot-pilot Inggris yang merupakan veteran dari Battle of Britain kemudian mampu menjadi intstruktur pelatihan guna menggembangkan RAF yang akan mengebom Jerman tiga tahun sesudahnya. Sebaliknya, pilot-pilot Jerman yang dikiri ke front timur tidak banyak yang kembali. Ketika sekutu mulai mengebom pertahanan Jerman di Eropa, pilot Jerman harus maklum bahwa mereka sekarang ini berhadapan dengan pilot-pilot yang berpengalaman dan terlatih dengan baik. Sementara itu kebanyakan dari pilot Jerman di kala itu adalah rekrutmen baru yang masih hijau.

Sumber::
– Wikipedia (Supermarine Spitfire, Me Bf -109)
– Perang Eropa Jilid I (PK Ojong)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s