Bencana Banjir Jakarta – Sebuah Pemikiran Untuk Masa Depan

Jakarta, ibu kota Indonesia yang berbinar-binar dan penuh dengan kemegahan. Sebuah kota yang menjadi pusat perhatian, tolok ukur, dan pengharapan yang tinggi. Kota yang menjadi ibu, dalam artian sesungguhnya, terhadap kota-kota lain di seluruh nusantara. Kota yang menjadi sebuah impian dan cita-cita yang tak terbatas dari corong keinginan sebuah bangsa yang tengah bergeliat untuk maju.

Banjir Jakarta

Namun seluruh pujian tinggi membumbung itu agaknya harus tertekan oleh sebuah peristiwa yang agak menyesakkan dada. Sebuah kejadian yang membuat bangsa Indonesia harus sedikit tertunduk malu. Di tengah hiruk pikuk kemajuan yang seakan tidak terbendung lagi, curahan air dan lumpur menggandaskan kebanggaan kita sebagai bangsa. Kota yang menjadi pusat dari segala pusat aktivitas denyut nadi negara, tenggelam dalam duka dan air mata.

Bencana memang datangnya tidak dapat dikira, ia seperti angin yang tiba-tiba saja menerpa. Namun sebuah pohon yang kuat, tidak akan tercabut akarnya ketika puting beliung datang. Hanya ranting dan dahan saja yang bergoyang seperti penari gambyong menjentikkan jari-jemarinya. Begitu pula sebuah kota, ketika perencanaan, infrastruktur, dan fasilitas mencukupi, sebuah bencana paling besarpun hanya akan membuatnya sedikit terkaget. Tidak sampai membuatnya terguncang hingga tak mampu bernafas.

Continue reading

Sisi Kelam dan Cerah Mein Kampf

Mein Kampf telah menjadi simbol kejahatan dan kengerian terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Sebuah buku yang  membawa manusia ke dalam pertumpahan darah paling mengerikan, yang tak akan dapat dilupakan dalam runtutan-runtutan generasi. Buku yang telah menjadi acuan terhadap kebencian sebuah bangsa terhadap bangsa lainnya dan membuat orang-orang tak bersalah telah kehilangan nyawa mereka dalam sebuah konflik yang tidak perlu. Buku yang membawa jurang kegetiran, kesengsaraan, dan menjadi sebuah keputus asaan dalam ketidakberdayaan. Lalu, jika buku ini begitu mengerikan, mengapa dahulu Mein Kampf menjadi buku paling laris ke 2 setelah Bible, bahkan sekarangpun masih menempati urutan ketika setelah Alquran? Buku tersebut bukanlah sebuah buku agama, bukan juga sebuah buku pencerah, bukan juga sebuah buku yang membawa keberuntungan, apalagi sebuah buku yang mendatangkan banyak manfaat. Namun mengapa buku ini begitu dipuja pada jamannya?

mein_kampf_dust_jacket

Sebelum mendalami lebih jauh, mari sedikit memahami bagaimana seluk beluk Mein Kampf terlebih dahulu. Mein Kampf dikarang oleh seorang mantan pelukis jalanan dan gelandangan kota Vienna yang tiba-tiba menjadi pahlawan Perang Dunia I, atau lebih tepatnya seorang kopral yang mendapat bintang kehormatan Ritter Kreuz (Salib Besi). Kopral itu bernama Adolf Schicklgruber, yang kemudian merubah namanya menjadi Adolf Hitler, menyesuaikan dengan nama ayah angkatnya (Hitler atau Hidler dalam logat Austria) yang telah membesarkan dirinya. Di dalam Mein Kampf Adi (sebutan kecil Hitler) menggambarkan sosok ayah angkatnya ini sebagai seorang pria yang tegas, sementara ibunya adalah ibu yang penuh kasih sayang. Intinya, ia mengawali penggambaran sosok dirinya di dalam Mein Kampf sebagai seorang pria yang lahir dari keluarga baik-baik dan terpandang. Jika ia berasal dari keluarga baik-baik dan terpandang, mengapa ia bisa menjadi pelukis jalanan dan gelandangan kota Vienna, ibukota Austria?

Ayah Hitler meninggal ketika ia berusia masih cukup muda. Warisannya sebenarnya cukup untuk membiayai kehidupan dirinya yang kala itu sedang merantau ke Vienna. Ia jauh-jauh pergi meninggalkan kampung halamannya di Inn untuk memasuki sekolah seni di Ibukota Austria. Namun setelah mencoba berkali-kali, Hitler gagal dalam ujian masuk ke sekolah seni tersebut. Ia justru disarankan untuk masuk ke jurusan Arsitektur, sebuah langkah yang sia-sia karena nilai eksaktanya semasa sekolah atas tidak pernah bagus. Akhirnya, ia mencoba peruntungan sebagai seniman jalanan, menjajakan karya-karyanya dengan harga murah, ada cerita bahwa ia menyalin lukisan-lukisan gedung Vienna dari kartu pos dan menjualnya kepada turis. Apapun itu, sebenarnya karya lukisnya tidaklah begitu buruk, ia mungkin hanya perlu bersabar untuk menjadi tenar.

Continue reading

Sebuah Memori

Memori di masa lalu selalu membayangi, ia datang dan pergi seperti awan mendung di musim hujan. Ia selalu menggantung, mencengkram, dan mencekik nafas sehingga hidup tak dapat lagi bebas. Memori selalu datang dan pergi, layaknya penunggang kuda yang sombong di hamparan hijau padang stepa Kaukasia. Muncul dan menghilang sekenanya, tak ada yang mampu mencegahnya, tak ada yang mampu memperhitungkannya. Ia  datang membayangi langkah kehidupan, membuatnya berat, terseret-seret, dan terluka.

Memory

Memori yang kejam, memori yang berduka. Dia adalah entitas panjang, perpaduan antara pengalaman dan pergumulan batin. Lekat bagai lem yang tak mau terlepas. Menguak segala duka, lara, dan rasa sakit yang pernah ada di hadapan mata. Ia datang di dalam mimpi-mimpi paling indah dan juga di dalam mimpi-mimpi paling buruk. Menguras segala emosi dan air mata, sementara itu batin pun terus saja berkata “Mengapa kau selalu datang, mengapa kau tidak mau menghilang?”

Sekelumit memori, ia hanya sekelumit memori, namun bekasnya tak mau hilang. Sekuat apapun mencoba, sejauh apapun menghindar, ia akan selalu datang dengan cara-caranya yang baru. Memori-memori yang telah begitu panjang, seharusnya telah begitu jauh meninggalkan. Namun ia selalu datang, selalu datang kembali dengan caranya yang baru. Apakah memori itu adalah karma? Apakah sebuah kesalahan telah menjadikan ia begitu kejam?

Continue reading

Kesalahan dan Pemikiran Manusia

Manusia adalah makhluk yang dipenuhi dengan kesalahan. Entah itu disengaja, setengah disengaja, disengaja, atau justru dengan senang hati kita lakukan. Kesalahan demi kesalahan terus menumpuk, tiap waktu, tiap saat, di setiap detik kehidupan kita yang fana, di dunia yang tidak lagi mengenal batas antara baik dan buruk. Setiap kesalahan yang kita perbuat, satu, dua atau ribuan jumlahnya telah begitu membekas sehingga mungkin kita tak mampu lagi lari darinya. Sebuah realitas yang memaksa kita untuk selalu berpikir, “sebenarnya apa yang telah aku lakukan?” Atau justru kita mulai berpikir, “untuk apa sebenarnya kita hidup?”

Painting_young-man

Barangkali kehidupan kita sejak awal adalah sebuah kesalahan. Kita lahir pada masa yang salah, kita hidup pada tempat yang salah, kita bertindak dengan cara yang salah. Atau barangkali manusia itu sendiri adalah sebuah kesalahan. Alam tidak akan kekurangan apapun ketika manusia menghilang. Alam justru mungkin akan dengan bersuka cita, bergembira dan bersorak-sorai untuk membawa kita keluar dari kehidupan. Membawa makhluk-makhluk pembawa bencana ini keluar dari sistem yang sebenarnya telah tertata dengan begitu baiknya.

Atau barangkali pemikiranku diatas sepenuhnya salah. Barangkali kita  tidak diciptakan dengan kesalahan, namun kesalahan diciptakan setelah kita ada. Adam dan hawa adalah makhluk pertama yang pernah berbuat salah, makhluk pertama yang pernah melakukan kesalahan dengan disengaja. Kita tidak pernah mendengar bahwa kera melakukan kesalahan, atau gajah melakukan kesalahan, atau predator-predator purba melakukan kesalahan. Kesalahan, barangkali merupakan sebuah tanda keistimewaan, barangkali juga merupakan tanda kemalangan. Karana kesalahan membuat kita berbeda dari makhluk lainya, dan karena kita dihukum karena kesalahan kita.

Sebagai manusia, kita mempunyai banyak sekali kemundahan dan kebahagiaan. Akan tetapi kemudahan dan kebahagiaan itu semua mempunyai konsekuensi. Setiap langkah di dalam hidup mempunyai konsekuensi. Dan setiap konsekuensi mempunyai ujungnya masing-masing. Entah itu ujung yang juga membahagiakan maupun ujung yang membuat kesengsaraan. Ketika kita tidak tidur di sebuah malam, maka konsekuensinya adalah, kita menjadi mengantuk pada keesokan harinya. Sebenarnya semua makhluk mengalami konsekuensi yang sama. Hanya saja, tidak pernah ada yang memikirkannya, kecuali manusia itu sendiri. Dan saya tidak yakin, bahwa ada hewan yang begadang dengan disengaja.

Continue reading

Sebuah Tahun Yang Baru

Detik berganti detik, menit berganti menit dan jam berganti jam, semuanya terus bergulir hingga tahun berganti tahun. Kita berjalan dalam sebuah entitas waktu yang terus-menerus bertambah, terperangkap dan tak pernah bisa keluar darinya. Jadi, tidak ada gunanya sama sekali untuk mencoba lepas dari sebuah ketentuan yang takkan dapat dipisahkan. Waktu adalah sebuah kepastian bagi hidup, sebagaimana layaknya manusia merupakan sebuah kepastian dari kehidupan.

New-Year-2013

Waktu demi waktu berganti, dan manusia akan terus-menerus melangkah di dalam kehidupannya. Kehidupan yang penuh dengan kebaikan, kebahagiaan dan di sisi lain penuh dengan derita dan kesalahan. Dua sisi yang berseberangan akan selalu ada, berhadap-hadapan dan menimbulkan sebuah konflik batin yang tak berujung. Di dalam pemikiran kita, kebaikan dan keburukan selalu bersanding. Di satu saat, kita ingin menjadi manusia suci yang penuh dengan cahaya, namun di saat yang lain, kita mungkin ingin menjadi manusia paling bejat yang pernah ada di muka bumi. Dan barangkali kedua pemikiran itu bercampur aduk, melebur dalam hitungan detik sehingga kita tidak akan mampu membedakan mana yang seharusnya kita lakukan. Semua tergantung pada pilihan, dan pilihan itu tergantung dari refleksi jiwa.

Tahun yang baru selalu menjadi cerminan pembeda antar waktu. Di satu saat, kita mungkin berpikir untuk menjadi manusia yang baru, di waktu yang benar-benar baru. Namun di sisi lain, barangkali semua itu sirna dalam hitungan tidak lebih dari jentikan jari. Kesalahan dan kebaikan adalah hal mutlak yang selalu diperbuat anak adam. Semua telah ada, sejak awal kita ada. Semua sudah tertulis sebelum kita menghirup udara dunia yang tak lagi bersih.

Barangkali, penting adanya bagi kita untuk melihat cerminan hidup di tahun yang telah berlalu. Apakah kita telah menjadi seorang yang berguna, mungkin setidaknya bagi diri kita sendiri. Atau justru kita menjadi manusia yang begitu hina. Jalan hidup, tidak ditentukan setahun sekali, namun dengan melihat setahun ke belakang, setidaknya kita dapat mengoreksi apa yang benar dan apa yang salah dalam diri kita. Hidup adalah sebuah perjalanan panjang dimana tidak ada satupun orang yang tahu apa muara apa yang ada di ujung. Refleksi hidup untuk menyongsong kehidupan setahun ke depan adalah sebuah cara yang cukup baik untuk mendefinisikan bahwa, kita harus dapat bergerak ke arah yang benar.

Continue reading

Big Chrunch, Big Rip, dan Big Freeze – Sebuah Kehancuran Yang Menanti Alam Semesta

Edwin Hubble pada tahun 1927 menemukan bahwa setelah Big Bang terjadi, alam semesta terus-menerus mengalami ekspansi menjauh dari titik semula. Hal itu benar-benar merubah persepsi di masa itu yang mengganggap bahwa alam semesta berada pada keadaan tetap (Steady State). Artinya, alam semesta tidak mengalami perubahan beberapa saat setelah Big Bang hingga saat ini. Penemuan Hubble menjadi sebuah titik baru pemahaman manusia terhadap alam semesta. Baik bagaimana alam semesta itu terbentuk,  maupun perkiraan bagaimana alam semesta itu akan berakhir suatu saat lain.

Perkembangan Alam Semesta

Perkembangan Alam Semesta

Yang lebih mencengangkan dari penemuan Hubble adalah, kecepatan alam semesta dalam proses perkembangannya ternyata tidak melambat. Sebaliknya, alam semesta justru berkembang dalam percepatan yang terus menerus bertambah. Bukti dari hal itu adalah efek dopler. Dalam teori fisika klasik, sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke arah kita, maka akan nampak mempunyai efek warna kebiruan. Sedangkan sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi menjauh dari tempat kita berada, maka akan mempunyai efek warna kemerahan.

Efek Doppler Terhadap Warna

Efek Doppler Terhadap Warna

Dari hasil pengamatan Hubble, ditemukan bahwa galaksi-galaksi yang ada di alam semesta bergerak menjauh dengan efek warna kemerahan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa galaksi-galaksi sedang bergerak, dengan percepatan tertentu menjauh dari sebuah titik yang diperkirakan sebagai titik awal terjadinya Big Bang. Dari keadaan susunan galaksi waktu itu, dibandingkan dengan percepatan, maka diperkirakan bahwa usia alam semesta adalah 13.7 milyar tahun.

Pertanyaan yang paling menggeltik adalah, sampai kapan alam semesta dapat berkembang terus? Karena sebuah benda yang mempunyai percepatan pastilah mempunyai akhir dari percepatan yang ia hasilkan sendiri. Namun sebelum membahas tentang bagaimana alam semesta ini akan berakhir, ada baiknya kita melihat apa yang menyebabkan galaksi ini dapat terus berkembang.

Sebuah entitas khusus yang mampu mengisi ruang kosong di alam semesta sebenarnya sudah lama sekali di gali. Jika seluruh partikel plus helium dan hidrogen ditambahkan secara total, alam semesta masih kekurangan 95% dari total bobotnya. Jika ditambah kembali dengan partikel-partikel gelap (tak terlihat) yang nanti disebut dengan Dark Matter, maka kekurangan itu hanya dikurangi sebesar 25%. Itu artinya 70% akam semesta masih kosong.

Continue reading