Jakarta Yang Berbahagia Jakarta Yang Merana

Jakarta, bagi jutaan manusia yang hidup di hiruk pikuknya, barangkali kota ini adalah kota yang penuh dengan harapan dan ilusi. Kota yang penuh sesak, panas, dan bising ini tengah merayakan ulang tahunnya yang ke 486. Sebuah usia yang tidak lagi muda, bahkan jauh lebih tua dari sebagian besar kota lain di Indonesia.

Jakarta

Jakarta memberikan banyak sekali harapan sehingga tiap tahunnya, puluhan ribu manusia datang untuk membanjirinya. Kota yang termasuk ke dalam tiga belas kota terbesar di dunia ini merupakan pusat denyut nadi pergerakan negara ini. Yang di dalamnya dipenuhi sesak baik untuk segi ekonomi finansial, industri, dan pemerintahan. Sayang sekali, negara kita tidak memilah-milah kawasan sehingga semua bercampur aduk menjadi satu seperti adonan roti. Berbeda jika kita lihat Amerika Serikat yang begitu kentara memisahkan kawasan-kawasan kotanya (Washington sebagai pusat pemerintahan, New York sebagai pusat bisnis finansial, Kawasan pantai barat sebagai pusat Industri dsb).

Jakarta boleh bangga, selama beberapa tahun belakangan ini, perekonomian kota dan negara ini sedang bangkit dalam kinerja yang tak pernah dilihat sebelumnya. Kota ini tumbuh seiring dengan kemajuan ekonomi yang tak terbendung. Bangunan-bangunan baru dibentuk, jalan-jalan dibuat bertingkat-tingkat. Dan untuk pertama kalinya, Mass Rapid Transportation dibuat untuk menampung kebutuhan warganya.

Continue reading

Ambisi Manusia Yang Tak Terbatas

Manusia hidup dengan penuh ambisi. Ambisi untuk bertahan hidup, ambisi untuk jadi lebih kaya, ambisi untuk lebih berkuasa, maupun ambisi di luar jangkauan duniawi. Ambisi-ambisi tersebut akan selalu ada, karena pada dasarnya, ambisi adalah salah satu kinerja otak manusia yang paling menonjol. Berawal dari kreatifitas manusia untuk menciptakan sebuah keinginan, keinginan yang berada di luar naluriah. Atau, justru terbentuk dari dasar naluriah.

Ambition

Ambisi identik dengan sesuautu yang berbau dengan persaingan. Jika kita pernah mendengarnya di sekolah atau tempat kerja, kita pasti tahu apa artinya. Namun, ambisi tidak selalu harus merupakan hal yang berujung pada saling menjatuhkan. Manusia pada dasarnya mampu memperbaiki diri, menjadi seorang yang lebih baik, lebih berkuasa, lebih kaya tanpa harus mengorbankan orang lain.

Mempunyai ambisi adalah hal yang lumrah, namun ambisi yang membahayakan orang lain adalah ambisi yang keliru. Manusia pasti akan selalu ingin menjadi yang lebih unggul, lebih baik, atau lebih apapun dari yang lain. Namun, manusia yang lebih dalam segala hal saja pasti pernah mempertanyakan, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?

Ada banyak sejarah yang menjelaskan bahwa ambisi yang tidak terarah justru berujung pada sebuah petaka. Hitler telah menguasai eropa pada tahun 1941, namun ia ingin menguasai lebih, pasukannya yang besar diarahkan ke Rusia dan justru musim dingin di sana menghancurkan pasukannya. Hal itu juga pernah dialami oleh Napoleon, sekitar seratus dua puluh tahun sebelumnya. Dan banyak lagi contoh-contoh dalam sejarah yang mengindikasikan jika ambisi yang tidak dibarengi dengan unsur lain seperti kesabaran, hanya akan berujung pada sebuah petaka.

Continue reading

Sebuah Seni Menulis

Beberapa ribu tahun yang lalu, sebuah terobosan ditemukan oleh kakek-nenek moyang kita. Sebuah terobosan yang akan mengubah hidup anak cucunya, ke dalam tahap yang sama sekali tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Mengubah kebiasaan, mengubah tata cara, dan bahkan mengubah gaya berpikir manusia. Orang mulai menuangkan ide-idenya, pemikirannya, dan imajinasinya ke dalam sebuah simbol-simbol yang dipahami bersama sebagai sebuah pakem. Simbol-simbol itu merepresentasikan bunyi sebagai sebuah bahasa. Dan simbol-simbol itulah yang pada akhirnya berevolusi menjadi tulisan seperti yang kita kenal sekarang ini.

Writing-writing-31275199-1500-1004

Menulis adalah sebuah hal yang istimewa. Tidak diperlukan lagi sebuah penggambarang rumit untuk menceritakan sebuah peristiwa. Orang cukup menggoreskan simbol-simbol tertentu, yang mampu dirangkai menjadi sebuah kata. Dan kata-kata tersebut mampu menceritakan segalanya. Dari mulai perburuan binatang hingga kelahiran putra dewa. Bahasa membuat manusia mampu menuangkan pikirannya, namun tulisan membuat pikiran manusia abadi.

Kita tidak mungkin mengenal pemikiran Plato dan Socrates tanpa adanya tulisan. Begitu pula dengan rincian detail penyerangan Aleksander Agung ke Persia. Obat-obatan dan ramuan yang merevolusi medis modernpun agaknya sulit untuk ditemukan tanpa adanya tulisan-tulisan para ahli terdahulu. Begitu juga dengan banyak seluk-beluk sejarah manusia. Dan di atas itu, kita tidak mungkin mempunyai agama yang kokoh jika kitab-kitab suci tidak pernah di tuliskan di atas kertas.

Agama modern identik dengan tulisan. Kumpulan sabda ataupun ayat yang kemudian dibukukan menjadi kitab suci. Tanpa adanya tulisan, semua hanya akan berakhir pada pembicaraan mulut ke mulut. Dan tiap kisah akan mempunyai versi mereka masing-masing, dan semakin lama, semakin banyak kisah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya.

Continue reading

Kenaikan BBM dan Pendewasaan Bangsa

Bahan Bakar Minyak (BBM) telah menjadi kebutuhan pokok bagi seluruh bangsa di dunia. Ia menjadi penggerak roda ekonomi, sosial, dan politik. Dengan hanya menghilangnya satu saja entitas ini, maka peradaban kita akan mundur seratus hingga dua ratus tahun ke belakang. Manusia telah menjadi spesies yang begitu tergantung pada ciptaannya sendiri, hanya saja ciptaannya itu tidak dapat berdiri sendiri, ia harus ditopang oleh energi lain, energi yang berasal dari alam.

oil

Ketergantungan manusia terhadap BBM adalah salah satu contohnya. Kita tahu bahwa minyak dunia terbatas, atau bahkan sangat terbatas. Namun kita tetap memilih untuk bergantung kepada sumber daya yang secara perlahan-lahan terus menipis itu. Barangkali, ketika kita tua, 30 atau 50 tahun lagi, dunia akan menyadari bahwa manusia pada era kita telah salah besar bergantung kepada sumber daya itu. Akan tetapi, penyesalan memang selalu datang belakangan, dan sering kali terlambat.

Kebutuhan akan BBM semakin naik dari waktu ke waktu, meskipun begitu, negara kita mengucurkan biaya yang begitu besar untuk melakukan subsidi kepadanya. Subsidi memang meringankan dan membuat masyarakat mempunyai kehidupan lebih baik. Namun di satu sisi, penggunaan BBM yang kian langka dan menipis tersebut akan terus terpacu. Setiap tahun, penjualan kendaraan bermotor kian meningkat, dan setali tiga uang, konsumsi BBM pun akan meroket. Ada sebuah korelasi juga terhadap semakin menurunnya kualitas alam yang ada di sekitar kita.

Continue reading

Eternity dan Kehidupan Setelah Kematian

Keabadian adalah sebuah kata yang kita sering dengar dan selalu diasosiasikan dengan kematian. Mengapa? Bukankah kematian adalah sebuah akhir? Bagi sebagian penganut agama-agama semit, kematian hanyalah sebuah fase lain dari kehidupan manusia yang panjang, yang tidak mempunyai ujung, yang tidak tergambarkan. Begitulah kira-kira, deskripsi dari arti kata keabadian di sebagian kepala kita. Kehidupan di alam lain, di sebuah tempat penuh kesenangan bernama surga ataupun tempat penuh siksaan bernama neraka.

clouds

Lalu, apakah itu sebenarnya keabadian? Apakah keabadian mempunyai akhir atau memang benar-benar sebuah masa yang tidak mempunyai akhir. Atau konsep ruang dan waktu yang ada di dimensi kita tidak berlaku untuk memahaminya. Atau barangkali juga konsep pemikiran kita terhadap ruang dan waktu yang telah ada adalah salah. Kita yang terperangkap dalam lingkup alam semesta ini sama sekali tidak dapat memahami konsep yang ada di luar alam yang kita ketahui.

Namun, keabadian ada di (hampir) setiap kepercayaan. Sebuah konsep di mana waktu itu semu, tak terbatas, dan tak mempunyai arah. Kita akan terus hidup dalam keabadian. Entah dalam kebahagiaan maupun dalam derita. Namun, jika memang keabadian itu ada, bagaimana kita bisa mendefinisikan konsep dari derita dan kebahagiaan?

Seorang anak orang kaya, ia akan mengganggap segala fasilitas yang ia terima dari orang tuanya sebagai sebuah kewajaran. Namun begitu, ketika seorang miskin mendapatkan hal yang sama, ia mengganggapnya sebagai sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan dan penderitaan adalah relatif. Semua tergantung dari sudut pandang dan bagaiman indra kita mempunyai reaksi terhadapnya.

Continue reading

From Big Bang to Us

Dahulu saya melihat teori evolusi dengan perasaan tidak enak. Saya selalu mengganggapnya sebagai buah pemikiran para atheis yang menentang Tuhan. Atau juga sebuah legitimasi science untuk menyatakan perang dengan gereja eropa. Konflik antara dogma agama dan pemikiran baru yang mereka sebut sebagai abad pencerahan. Namun, setelah saya pikir-pikir ada sesuatu hal yang menarik. Kita melihat bahwa alam semesta ini tidaklah konstan, ia terus bergerak dan akan terus bergerak. Alam semesta akan terus berubah dan terus berubah.

Cosmic Evolution

Saya seorang yang beragama dan saya percaya dengan keberadaan Tuhan. Meskipun begitu, saya yakin bahwa teori evolusi mewarnai keberadaan kita. Malah, teori itu bisa menjelaskan bagaimana kita bisa ada di dunia ini. Teori evolusi kita tidak berawal dari kera, bukan juga berawal dari hewan bersel satu, namun berawal dari big bang, atau justru jauh sebelumnya.

Apa perbedaan makhluk hidup dengan benda mati? Apakah perbedaan itu hanya sebatas nyawa? Lalu di mana letak nyawa dari bakteri, virus, hewan bersel satu? Apakah mereka juga mempunyai jiwa seperti kita, mamalia, reptil? Pertanyaan-pertanyaan itu kadang terus dan terus berputar di kepala. Pertanyaan yang kadang hanya menimbulkan pertanyaan lain yang lebih besar daripada sebuah jawaban yang pasti.

Kita sebagai manusia mempunyai keterbatasan terhadap alam pikiran, indra, dan pengalaman. Dunia kita terbatas, pun kemampuan kita untuk mengobservasi segalanya sangat dibatasi. Waktu dan ruang sebenarnya lebih sebagai penjara daripada ruang hidup kita. Kita hanyalah makhluk 3 dimensi yang terjebak eksponensial waktu yang berjalan satu arah. Tidak dapat mundur, ke samping, maupun berhenti. Waktu bagi kita terus maju, menggilas, dan kemudian meninggalkan waktu-waktu yang telah lampau.

Continue reading

Pandangan Perang Laksamana Ishoroku Yamamoto

Terkadang, peperangan membawa sebuah ironi. Seseorang yang begitu membenci perang, dapat juga justru menjadi pemicu utama dari peperangan. Itulah yang terjadi pada seorang Laksamana Jepang bernama Ishoroku Yamamoto. Seorang perwira briliant yang telah kehilangan dua jari tangan selama perang Russia dan Jepang di tahun 1905. Dia jugalah yang membangun angkatan laut Jepang sehingga begitu ditakuti selama awal Perang Dunia ke 2.

Isoroku Yamamoto

Isoroku Yamamoto

Yamamoto lahir pada tanggal 4 April 1884 di Niigata. Lulus dari Akademi Kelautan Kerajaan Jepang di tahun 1904. Setahun kemudian dia ikut pada Armada Perang Jepang melawan Russia. Pada tahun 1914 dia menjadi staff pengajar di Akademi Angkatan Laut dan pada tahun 1919-1921 ditugaskan untuk belajar di Havard, Amerika Serikat untuk belajar di sana. Dari sinilah, Yamamoto mempunyai kesan yang begitu mendalam tentang kekuatan Amerika baik dari segi industri maupun militer. Diam-diam, ia mempunyai impian untuk membangun angkatan laut impiannya sekuat, atau bahkan lebih kuat dari Amerika Serikat.

Sepulang dari Amerika, Yamamoto lebih berfokus pada aspek naval aviation (saya tetap pertahankan bahasa Inggrisnya) daripada gun boat (gaya peperangan laut lama dengan meriam-meriam besar). Saat itu adalah masa yang tepat, karena Jepang sedang giat-giatnya membangun angkatan perang. Namun, tugas itu bukanlah sesuatu yang mudah. Bukan hanya angkatan laut yang ingin berkembang, angkatan daratpun mempunyai impian yang sama. Tarik menarik angkatan laut dan darat inilah yang kemudian berbuah pada dua sudut pandang pemikiran yang berbeda.

Continue reading