Keyakinan Antara Atas dan Bawah

Setiap manusia pasti mempunyai keyakinan. Entah itu keyakinan tentang Tuhan, keyakinan tentang ideologi, maupun keyakinan tentang nasib. Keyakinan akan membuat manusia mempunyai tujuan, sebuah pemikiran yang hanya dimiliki oleh makhluk dengan tingkat kecerdasan tinggi. Tujuan akan membuat sebuah peradaban berkembang, yang akhirnya terdapat sebuah perubahan dari masa ke masa. Tidak terlalu penting apakah perubahan itu baik, buruk, atau justru membawa kepada kehancuran. Perubahan akan terus terjadi, meskipun manusia itu sendiri tidak pernah ada. Namun, perubahan yang dibuat manusia adalah suatu yang unik.

desert

Namun keyakinan bukanlah sebuah hal yang pasti. Setiap saat, pemikiran manusia berubah, ada yang semakin maju, ada yang berhenti, ada pula yang justru memudar. Ketidakpastian pemikiran itu terjadi karena manusia mempunyai satu hal yang lain. Nafsu, nafsu membuat manusia mempunyai keinginan, dan keinginan dapat berubah wujud pula menjadi sebuah tujuan. Keyakinan dan nafsu sama-sama dapat berubah bentuk menjadi tujuan, dan tujuan akan menentukana jalan hidup manusia.

Iman merupakan salah satu bentuk keyakinan, dan layaknya keyakinan yang lain, iman juga dapat berubah seiring dengan waktu. Tidak ada manusia yang mempunyai keimanan konstan, tidak ada pula manusia yang tidak percaya sama sekali terhadap Tuhan. Kesadaran atas sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri kita merupakan bentuk alamiah pemikiran manusia yang telah muncul sejak ribuan tahun lalu. Sebuah pemikiran yang barangkali telah tumbuh seperti cara kita bernafas sekarang ini.

Lalu, bagaimana dengan seseorang yang tidak percaya terhadap Tuhan? Ya, memang banyak sekali manusia yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Beberapa diantaranya seperti Stephen Hawking, seorang ilmuwan kelas atas menyatakan bahwa “aku bukan tidak percaya terhadap Tuhan, namun kalkulasi yang aku buat menyatakan bahwa alam semesta bisa hadir tanpa adanya Tuhan.” Aku tidak yakin, namun kemungkinan besar, pengakuan terhadap Supreme Being yang jauh di luar jangkauan kita memang ada di setiap individu manusia, hanya saja apakah seorang manusia itu mengakuinya atau tidak.

Continue reading

Definisi Tuhan

Tuhan, Allah, bagaimana kita mendeskripsikannya? Apakaha pikiran kita mampu untuk memahaminya, ataukah manusia terlalu kecil sehingga kita tidak mampu sama sekali untuk menggapainya. Barangkali telah ratusan atau bahkan ribuan tulisan manusia mencoba untuk mendeskripsikan bagaimana Allah itu sebenarnya,

“Segala puji bagi Allah yang mengetahui semua hal yang tersembunyi, dan menunjukkan kepada-Nya segala hal yang tampak. Mata terhalang dari melihat-Nya tetapi mata yang tidak melihat-Nya tak dapat menyangkal-Nya, sedangkan pikiran yang mengukuhkan maujud-Nya tak dapat melihat-Nya. Dia demikian tinggi daripada-Nya sementara dalam kedekatan. Dia dari segala ciptaan-Nya, tetapi ketinggiannya tidak menjauhkan-Nya dari segala ciptaan-Nya, tidak pula kedekatan-Nya, tetapi Diapun tidak mencegah pikiran manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang hakiki tentang Dia. 

Tanda-tanda keberadaan memberikan kesaksian kepada-Nya sampai-sampai pikiran yang menolakpun memercayai-Nya. Mahatinggi Allah di atas segala yang digambarkan oleh orang-orang yang menyerupakan Dia dengan sesuatu, atau yang menyangkal dia.”

Continue reading

Ramadhan Sebagai Akhir Konflik Tak Berkesudahan

Ramadhan adalah bulan yang mulia, pintu surga dibuka selebar-lebarnya sedangkan pintu neraka ditutup serapat mungkin. Pahala dan kebaikan dilipatgandakan sedangkan keburukan dipersempit. Waktu dimana setiap doa akan didengarkan dan (jika mungkin) dikabulkan. Namun benarkah seperti itu, lalu mengapa waktu sekarang ini di Syiria dan Mesir masih ada konflik yang tidak kunjung selesai?

ramadhan

Manusia diciptakan untuk mempunyai sifat mereka masing-masing dimana ketika manusia satu dan yang lain bertemu akan menimbulkan gesekan yang mungkin tidak perlu. Perbedaan pendapat memang wajar dan selayaknya terjadi, namun terkadang perbedaan itu akan merembet menjadi serentetan pertumpahan darah yang tidak berkesudahan. Atau pada dasarnya kita memang suka untuk saling berselisih paham? Menuduh bahwa orang lain salah sedangkan kitalah yang paling benar, menyatakan bahwa orang lain telah sesat dan kita yang berada di jalan yang benar, menghakimi bahwa orang lain kafir sedangkan hanya kita yang beriman?

Manusia diciptakan dengan akal, di satu sisi, hal tersebut adalah sebuah kelebihan yang patut untuk dibanggakan, namun di sisi lain, hal itu tidak lebih dari sebuah kesia-siaan. Akal yang ada di dalam otak kita akan menjadi sebuah pedang yang tajam, membunuh saudara-saudara dan bahkan keluarga kita sendiri. Lalu apa kegunaan dari mempunyai akal? Apakah sebuah akal hanya akan membawa kesengsaraan dan penderitaan yang panjang. Atau sebaiknya akal digunakan untuk memperbaiki hidup kita, agar kelak kita dikenal sebagai moyang-moyang yang mulia.

Continue reading

Papua Milik Siapa?

Papua adalah tanah yang luar biasa, alamnya yang kaya menyimpan berbagai macam harta karun yang tak pernah habis untuk ditelusuri. Hutan-hutannya yang lebat menyimpan beraneka ragam tumbuhan dan satwa yang masih penuh misteri. Pedalamannya masih jauh dari penjelajahan, menunggu seseorang atau sekelompok manusia untuk menggungkap tabirnya.

Papua3

Akan tetepi keindahan dan eksotisme Papua sedikit tercoreng belakangan ini. Bau tidak sedap dari api perpecahan mulai tercium. Semenjak beberapa puluh tahun lalu telah menjadi bagian NKRI, kini mulai menggeliat untuk melepaskan diri. Sebuah kelompok yang kita sebut sebagai Organisasi Papua Merdeka atau OPM dengan bendera bintang kejoranya, kerap kali melakukan aksi penyerangan kepada satuan-satuan TNI dan pertambangan yang ada di sana.

Konflik di Papua sudah memakan korban (meskipun tidak masive) yang berjatuhan baik di pihak yang mengginginkan kemerdekaan maupun pihak Republik Indonesia. Bagi Indonesia tentu saja, hal ini tidak dapat ditolerir. Pemberontakan terhadap negara harus ditekan dan kalau perlu dihapuskan. Negara mana di dunia ini yang mau wilayahnya terpecah dan terbagi-bagi. Namun jika ditilik dari segi rakyat papua sendiri, sebuah pemandangan lain akan kita temui.

Continue reading

Kualitas vs Kapasitas Industri Militer

Menjadi sebuah kebanggaan sebuah negara jika militernya nampak tangguh di mata negara lain. Persenjataan baru, kualitas manusia yang tangguh, atraksi-atraksi udara yang memukau, dan kapal-kapal yang mengarungi samudra dengan buasnya. Tidak heran jika banyak negara-negara yang berlomba-lomba untuk meningkatkan kemampuan alutsista mereka. Biaya pembelian senjata baru ditingkatkan dan tender-tender senjata dilakukan secara massal.

M41

Semenjak tahun 2010, negara-negara terutama di kawasan asia seperti keranjingan memperkuat pertahanan mereka. Tujuannya tidak jelas, apakah hanya sekedar memamerkan kekuatan atau jauh lebih daripada itu. Kekhatiran baratpun tidak salah pada tempatnya, beberapa negara berpendapat bahwa perluasan senjata besar-besaran sekedar hanya untuk pamer kekuatan, mempunyai dampak negatif lebih besar daripada dampak positifnya. Namun benarkah kekuatan sebagian besar negara di asia benar-benar dapat untuk diperhitungkan?

China, barangkali adalah model yang baik untuk ditiru dari segi pengembangan militernya. Mereka tidak hanya mampu membeli peralatan-peralatan perang modern dari negara lain, namun mereka juga dapat memproduksinya dengan kapasitas industri mereka sendiri. Sementara itu, sebagian besar negara asia lain, seperti Indonesia, sebagian besar pasokan peralatan militernya (terutama yang berteknologi tinggi) masih mengandalkan impor dari negara lain.

Continue reading