Manusia Menuju Frontier Baru

Dalam tulisan sebelumnya, saya menuliskan tentang dunia yang sudah tidak lagi mampu menampung hasrat manusia. Bagi beberapa manusia, bumi sudah terlalu sempit lagi untuk dijelajahi. Sudah saatnya kita melihat sesuatu yang dekat dengan kita sehari-hari, namun jauh dari jangkauan tangan.

Gambaran Nenek Moyang Kita Tentang Kosmik

Gambaran Nenek Moyang Kita Tentang Kosmik

Setiap malam, nenek moyang kita melihat ke arah langit. Beberapa bahkan sangat ahli dalam memprediksi pergerakan bintang, komet, konstelasi, maupun bulan. Astronomi telah menjadi salah kegemaran manusia selama ribuan tahun. Dengannya, nenek moyang kita dapat memprediksi musim, arah, dan (mungkin) kejadian-kejadian yang ada di luar nalar.

Gambarang Manusia Sekarang Tentang Kosmologi (Dari Big Bang HIngga Manusia Modern)

Gambaran Manusia Sekarang Tentang Kosmologi (Dari Big Bang HIngga Manusia Modern)

Sekarang, kita melihat langit dengan cara yang berbeda. Dahulu, kita mengira bintang-bintang di angkasa tidak lebih dari sekedar bintik-bintik cahaya yang berubah seiring dengan waktu. Kini kita sadar bahwa kita sedang melihat ratusan, bahkan jutaan matahari-matahari lain di angkasa. Dan masing-masing matahari itu mempunyai planet-planet yang berkitar menggelilinginya. Satu atau dua planet di tiap matahari-matahari itu barangkali juga mempunyai kehidupan seperti yang ada di bumi.

Barangkali planet kita tidaklah istimewa, apalagi kehidupan di planet kita. Kehidupan mungkin tersebar di seluruh sudut jagat raya. Mengisi alam semesta dengan denyut-denyut nadi dan jantung yang berdetak. Terkadang, sulit kita mempercayai bahwa ada makhluk hidup lain di luar sana yang barangkali mempunyai pemikiran yang sama dengan kita. Namun bagiku, lebih sulit lagi mempercayai bahwa bumi kita adalah satu-satunya tempat di mana kehidupan mampu tumbuh dan berkembang.

Continue reading

The World Is Not Enough

Sejak awal, manusia selalu ingin menjelajah alam di sekitarnya. Dari padang rumput Afrika yang luas, nenek moyang kita telah berpindah melewati gurun-gurun yang kering untuk mencari tempat mencari makan yang lebih baik di Bulan Sabit Subur. Lalu dari tempat peradaban purba itu, manusia terus dan terus mendobrak perbatasan mereka hingga ujung dunia.

Cerita-cerita dan kisah masa lalu manusia dipenuhi dengan semangat penjelajahan. Semangat untuk menemukan tempat kehidupan baru, semangat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik, atau sekedar mencari tempat mengisi perut yang baru. Beragam motivasi, beragam keinginan mendorong manusia untuk selalu berpindah. Kadang rempah-rempah, terkadang pula emas, atau motivasi-motivasi keagamaan (seperti migrasi besar-besaran tentara salib).

Bumi Bukan Lagi Tujuan Utama Penjelajahan Manusia

Bumi Bukan Lagi Tujuan Utama Penjelajahan Manusia

Namun ke depan, manusia tidak lagi mencari tempat hunian baru di planet asal kita. Lima milyar manusia sudah terlalu sesak memenuhi bumi yang mempunyai luas permukaan 510.072.000 km2. Sekarang kita mulai berpikir, apakah ada tempat di luar sana yang dapat kita tinggali? Atau setidaknya, adakah tempat di luar sana yang mempunyai “potensi” untuk dapat kita ubah sebagai hunian.

Proses Perubahan Mars dari Planet Gersang Menjadi Planet Layak Huni

Proses Perubahan Mars dari Planet Gersang Menjadi Planet Layak Huni

Kandidat pertama adalah planet tetangga kita, Mars. Mars, planet merah yang gersang itu, konon dahulu mempunyai atsmosfer yang jauh lebih bersahabat untuk mendukung kehidupan. Disinyalir pula, kehidupan pada level rendah pernah ada di planet Mars. Sedikit diragukan apakah kondisi planet Mars mampu mendukung kehidupan kompleks seperti manusia atau hewan di masa-masa sekarang.

Continue reading

Timur Tengah Yang Tercerai Berai Akibat Konflik Mesir

Timur Tengah sedang bergejolak, api konflik membara dari ujung Tunisia hingga Syam. Negeri-negeri yang terpisah oleh gurun yang menyengat, namun disatukan oleh kepercayaan dan bahasa kini tengah menghadapi ujian yang kompleks. Mesir, negeri para Firaun dan Piramid adalah salah satu yang terkena imbasnya. Pada tahun 2010 lalu, demo besar-besaran telah berhasil menumbangkan rezim Husni Mubarak yang telah memimpin negara itu selama puluhan tahun. Pemilu (yang disebut demokratis pertama di negara itu) pun digelar, hasilnya seorang pemimpin bernama Muhammad Mursi tampil ke tampuk kekuasaan. Namun ternyata, perjalanan tidak semulus yang diinginkan.

Konflik Mesir

Sejarah mengajarkan bahwa sebuah revolusi, tidak selalu berakhir dengan kisah bahagia. Revolusi Perancis yang bertujuan membangun sebuah republik dari untuk dan oleh rakyat justru menghasilkan terror berkepanjangan yang berujung pada didirikannya kembali monarki Napoleonik. Kita patut bersyukur karena revolusi di Indonesia yang berhasil menumbangkan rezim orde baru berakhir dengan damai. Sayang sekali, revolusi Mesir di tahun 2010 tidak (atau belum) berakhir dengan indah.

Setelah setahun berkuasa dan menjalankan kebijakannya (yang sedikit banyak) pro terhadap Islam, Mursi yang berasal dari Ikhwanul Muslimin harus menelan pil pahit. Sekelompok masa yang didukung oleh militer mencoba untuk merongrong kekuasaannya. Massa yang disebut-sebut mewakili mayoritas suara rakyat itu mengkritisi kebijakan pemerintah yang dirasa terlalu memikirkan tentang kebijakan syariat ketimbang memperbaiki kondisi ekonomi yang masih carut-marut. Militer yang dimotori oleh Jendral Abdul Fattah Al Sisi mencoba untuk mengambil alih kekuasaan atau dengan kata lain melalukan Coup De Etat.

Jendral As Sisi yang sebelumnya adalah Menteri Pertahanan kabinet Mursi mengambil alih pemerintahan pada Juli 2013. Pengambil alihan yang semula berjalan dengan begitu mudah itu nyatanya harus berujung pada sebuah konflik internal yang berkepanjangan. Para pendukung Mursi, yang awalnya hanya berkisar pada seputaran simpatisan Ikhwanul Muslimin, mulai turun ke jalan untuk menyatakan protesnya. Mereka mengatakan bahwa Pemerintahan Al Sisi telah mengkudeta pemerintahan yang sah hasil pemilu.

Continue reading

Jalan-Jalan Ke Onrust, Kelor, dan Chipir

Catatan perjalanan saya bersama rekan-rekan Kili-Kili Adventure pada 6 Juni 2013 (thanks to Arif, Eldest, Gigih, dan Den Bima)

Indonesia menyimpan beragam petensi terkait pariwisata. Alam, budaya, dan sejarah masing-masing mempunyai pangsa tersendiri dalam menarik minat wisatawan. Salah satu wisata yang menarik untuk ditilik adalah wisata sejarah. Indonesia mempunyai sejarah yang panjang, dimulai dari jaman kerajaan Hindu Budha, hingga masa kemerdekaan dan sekarang. Di jaman Hindia Belanda, Indonesia menjadi basis pertahanan, sekaligus ekonomi bagi negara kincir angin tersebut. Kita dijajah selama (ada yang bilang) 350 tahun, walaupun sebenarnya angka tersebut sama sekali tidak akurat dan tidak berdasar.

Benteng Martello Yang Menjadi Icon Pulau Kelor

Benteng Martello Yang Menjadi Icon Pulau Kelor

Pusat pemerintahan Hindia Belanda berada di kota Batavia, atau yang kita kenal sekarang dengan nama Jakarta. Sebuah kota yang sebenarnya tidak terlalu besar di masa itu, namun karena letaknya yang begitu strategis dan menguntungkan dari segi ekonomi, maka kota tersebut dilindungi oleh berbagai macam benteng yang kuat. Tembok kota dibuat menggelilingi kota Batavia, namun sayang sekali, sekarang kita tidak dapat lagi melihat dengan jelas benteng kota Batavia kecuali kota lamanya yang ada di daerah Jakarta Utara. Lapisan berikutnya adalah benteng-benteng yang ada di gugusan kepulauan seribu.

Di kepulauan seribu, ada beberapa benteng yang dibangun. Konon kabarnya, benteng-benteng tersebut dahulu menyatu menjadi satu. Artinya adalah, kepulauan-kepulauan itu menjadi satu atau setidaknya dipisahkan oleh perairan yang dangkal. Namun sekarang, kepulauan tersebut saling terpisah satu sama lain dalam jarak yang jauh. Kemungkinan ada dua, pertama adalah permukaan laut yang semakin naik dari tahun ke  tahun, kedua adalah semakin terkikisnya daerah pantai dari pulau-pulau tersebut. Agaknya, kemungkinan kedua lebih banyak diminati.

Continue reading

Dirgahayu Indonesiaku Yang ke 68

Perayaan kemerdekaan Indonesia selalu menjadi momen yang istemewa. Terlebih lagi, di keluargaku, Ayah handaku juga berulang tahun di hari kemerdekaan Indonesia ini. Namun sayang, tahun ini, aku harus sudah jauh dari keluarga. Hidup merantau di Ibukota tercinta negara ini, Jakarta. Namun, itu tidak menggurangi semangat kebangsaan maupun hormat saya kepada bapak. Dan pada kesempatan tahun ini, saya menyempatkan diri untuk melihat secara langsung prosesi kemerdekaan Indonesia yang diadakan di Istana negara.

Persiapan Meriam Artileri 17 Agustus Istana Negara

Persiapan Meriam Artileri 17 Agustus Istana Negara

Saya berangkat pukul 8 pagi dari kos bersama rekan-rekan kerja saya. Kami menggunakan transportasi umum transjakarta yang ternyata berhenti di halte harmoni, kurang lebih 800m-1km sebelah utara dari Istana Negara. Tidak bisa lebih dekat, karena area di sekitar istana negara ditutup untuk jalur kendaraan. Begitu tiba, suasana cukup rama, walaupun tidak sampai benar-benar crowded. Beberapa tamu undangan dari kedutaan-kedutaan besar mulai hadir disana.

Persiapan Marching Band Dalam Rangka HUT RI 68 Istana Negara

Persiapan Marching Band Dalam Rangka HUT RI 68 Istana Negara

Untuk penonton masyarakat umum, tidak diperbolehkan untuk masuk pada area Istana, sehingga kami hanya melihat dari luar pagar. Namun, beberapa prosesi menarik justru terjadi di luar istana. Salah satunya adalah penembakan meriam menjelang detik-detik proklamasi dikumandangkan. Terdapat enam buah meriam dari Yonarmed 7 yang berjajar di seputaran lapangan Monas. Kaliber meriam tidak begitu besar, kemungkinan tidak lebih dari 100mm (saya kurang tahu persisnya berapa).

Continue reading

Manusia Bukan Dari Kera

Ada sebuah diskusi menarik yang kebetulan saya baca di sebuah social media. Diskusi tersebut membahas tentang pro kontra adanya teori evolusi. Di satu pihak, orang menentang teori evolusi karena bertentangan dengan ajaran agama dan di sisi lain, orang mengatakan bahwa bukti-bukti teori evolusi itu sudah banyak sekali sehingga tidak bisa diabaikan. Mungkin ada baiknya kita sedikit menilik kembali beberapa fakta yang ada di balik teori evolusi yang dikatakan diciptakan oleh Charles Darwin.

Evolution

Beberapa penemuan Darwin, atau beberapa generasi ilmuwan sesudahnya memang diambil dari sampel yang acak. Misalnya ada beberapa penemuan tengkorak manusia purba yang diambilkan dari simpanse atau beberapa spesimen lain yang salah kaprah. Tentu saja ini adalah bencana besar bagi sains. Metode yang sembrono ini tentu akan membuat penelitian ke depan menjadi jauh lebih sulit. Namun, di sini kita akan menemukan sebuah pembahasan menarik, yaitu manusia atau seluruh makhluk hidup sekarang berasal dari sesuatu yang lain?

“Manusia berasal dari kera!” Itulah yang selalu kita dengar dari berbagai macam ulasan yang kita baca. Sebuah pernyataan yang sebenarnya benar-benar menyinggung perasaan setiap manusia yang ada di dunia. Maukah kalian disamakan dengan binatang yang berjalan telanjang kesana kemari di tengah hutan dan tak tahu sopan santun?

Continue reading

Idul Fitri dan Kemenangan Umat Islam

Bulan Ramadhan 1434H telah terlewati, gegap gempita suasana lebaran, ied mubaraq berkumandang di mana-mana. Gema takbir tanda kemenangan umat terlantun sahut menyahut dari masjid ke masjid. jalan-jalan dipenuhi dengan hiruk pikuk manusia yang bertakbir, menggumandangkan kebesaran Allah “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!”.

Eid Mubarak

Paginya, manusia berbondong-bondong untuk pergi ke lapangan. Menunaikan shalat ied yang hanya dilaksanakan sekali dalam setahun. Tradisi maaf memaafkan berlangsung dengan indah. Meskipun tradisi itu sekiranya hanya ada di Indonesia, dan beberapa gelintir negara lainnya. Sungguh, terkadang kita berpikir bahwa kemenangan memang telah kita raih. Kemenangan akan hawa nafsu, kemenangan akan angkara murka, dan kemenangan antara surga neraka.

Namun ketika kita melihat berbagai perselisihan yang masih menggerogoti umat Islam, sudah selayaknya kita melakukan refleksi diri. Jalan kemenangan umat ini masih sangatlah panjang. Umat Islam masih belum mampu untuk bersatu, lebih-lebih untuk sekedar menyeleraskan pikiran, kita bahkan saling menuding dan menghujat antara satu golongan dengan golongan yang lain.

Continue reading