Sebuah Kebebasan

Kebebasan di dalam lingkup kehidupan pastilah mempunyai definisi, batasan, dan konsekuensinya masing-masing. Kebebasan itu pula di satu tempat dengan tempat yang lain mempunyai perbedaan yang terkadang sangat ekstrim. Perbedaan demi perbedaan itu disebabkan oleh banyak sekali faktor, mulai dari budaya hingga agama yang dianut oleh masing-masing penduduk suatu tempat. Di satu tempat, orang boleh mempunyai pendapatnya masing-masing dan menjalankan kehidupannya secara bebas berdasarkan kesadarannya secara penuh. Di tempat lainnya, orang hanya boleh patuh dan tunduk pada otoritas tertentu, mereka sama sekali tidak mempunyai kebebasan memilih jalan hidup atau menentukan masa depan yang harus ditempuhnya.

Freedom

Dari sekian banyak kebebasan kita dapat memilahnya menjadi tiga bagian. Pembagian ini memang tidak didasarkan dari sudut pandang ilmu tertentu, namun murni dari pendapat saya yang mungkin butuh revisi kedepannya. Beberapa kebebasan tersebut antara lain: kebebasan bertindak, kebebasan bersuara, dan kebebasan berfikir (freedom of act, freedom of speech, free thinking). Semua mempunyai koridor dan batas mereka masing-masing.

Kebebasan bertindak adalah kebebasan yang mempunyai lingkup paling luas. Jika seseorang bebas untuk bertindak, maka ia secara otomatis akan mempunyai kebebasan untuk bersuara apalagi berfikir. Negara-negara yang telah memperbolehkan rakyatnya untuk mempunyai kebebasan bertindak adalah sebuah negara yang dewasa. Disebut dewasa karena orang-orang di negara tersebut pastilah mempunyai kesadaran bahwa kebebasan bertindak mereka pastilah mempunyai keterbatasan, dan keterbatasan itu adalah hak orang lain untuk bertindak pula.

Kebebasan bertindak (freedom of act) bukan berarti bebas untuk melakukan semuanya tanpa mempertimbangkan resiko dan konsekuensinya. Namun kebebasan bertindak berarti orang bebas untuk bertindak sesuai dengan kehendak namun tetap dibatasi oleh hukum dan etika. Dan dari kebebasan inilah, orang akan mempunyai kesempatan untuk mengembangkan usaha, ilmu, dan berserikat secara lebih luas lagi. Tentu saja, kebebasan bertindak pada titik-titik tertentu akan membuat sebuah dilema. Karena kebebasan bertindak harus mempunyai koridor yang jelas dan terstruktur, namun tetap saja, inti dari kebebasan bertindak adalah semangat bahwa setiap manusia mempunyai hak yang sama dalam menentukan dan memilih jalan hidup.

Continue reading

Sebuah Pertempuran Tanpa Kekerasan

Sejarah manusia dipenuhi dengan kegetiran dan kegemilangan pertempuran demi pertempuran. Berbagai alasan digunakan untuk melegalkan sebuah konflik yang seringnya berujung kepada kengerian daripada sebuah pencerahan. Alasan mulai dari perluasan kekuasaan, kebebasan, agama, hegemoni, rasial, dan masih banyak alasan yang mungkin bahkan jauh lebih tidak masuk akal lagi. Setiap alasan terkadang justru membawa kepada alasan-alasan lain bagi bangsa, kelompok, suku ataupun individu penguasa untuk menyatakan perang sebagai bentuk kebenciannya kepada pihak lainnya. Sekilas kita mengganggap bahwa sikap semacam itu adalah sebuah cerminan dari watak manusia sehingga kita mengganggapnya sebagai sebuah kewajaran.

MIDEAST ISRAEL PALESTINIAN POPE

Lima puluh juta orang tewas akibat Perang Dunia ke 2 yang berlangsung kurang lebih selama lima tahun dari akhir 1939 sampai pertengahan 1945. Konflik itu merupakan konflik terbesar yang pernah dihadapi umat manusia selama sejarahnya ada di muka bumi ini. Konflik yang menggakibatkan kita merenung dan berfikir ulang untuk melangsungkan bentuk sejenis di masa-masa mendatang. Perang Dunia ke 2 sepatutnya menjadi tolak ukur kita sebagai pembanding bahwa kemajuan manusia di bidang ilmu pengetahuan akan sebanding dengan jumlah korban di dalam pertempuran. Dan sekarang kita telah berada di dalam fase kritis.

Kita patut bersyukur karena perang dingin, meskipun di beberapa tempat terjadi pertumpahan darah secara signifikan, tidak membuat manusia menggunakan teknologi terbesar (dan barangkali terbodohnya) yaitu senjata nuklir untuk melawan musuhnya. Jika bom yang mempunyai kekuatan puluhan bahkan ribuan kali bom Hiroshima dan Nagasaki benar-benar di detonasikan. Entah seperti apa kehidupun kita di masa sekarang ini. Barangkali kita hidup di masa thermal minus yang mungkin serupa dengan jaman es ribuan tahun yang lalu. Atau barangkali kota-kota kita tinggal reruntuhan saja dan kita terpaksa hidup di dalam gang-gangnya dengan getir.

Dalam dasawarsa terakhir, kita mendengar jenis-jenis pertumpahan darah yang lama sekali tidak terdengar semenjak Perang Salib. Konflik berdarah yang terjadi dalam skala tidak terlalu masif namun terpencar dan justru sangat meneror terjadi dari Amerika, Timur Tengah, bahkan Asia Tenggara. Jenis konflik yang mengatasnamakan agama ini semakin meruncing dengan keluarnya luka lama yang sengaja dibesar-besarkan sehingga menjadi sebuah angin segar baru bagi para ekstrimis.

Perjuangan memang seringkali membutuhkan kekerasan karena dengan kekerasan maka mudah sekali menentukan definisi dari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang kalah adalah pihak yang dengan terpaksa tidak mampu lagi meneruskan perlawanan fisiknya sementara yang menang adalah pihak yang masih mampu menggangkat senjata dan mendiktekan syarat kemenangannya kepada pihak lawannya. Sebuah solusi purba yang barangkali telah ada semenjak peradaban manusia pertama kali muncul di dunia ini. Namun, solusi-solusi pertumpahan darah dan kekerasan itu dewasa ini sepertinya tidak lagi koheren. Ada istilah, “war is not defines who is right, just who is left.” – Perang tidak lagi menentukan siapa yang benar, namun siapa yang tersisa.

Continue reading

Skala Manusia vs Alam

Kita pasti sering berfikir bahwa kehidupan kita adalah segala-galanya. Apa yang kita dapatkan dari kelahiran hingga kematian adalah sebuah konsekuensi logis kehadiran kita di alam semesta ini. Aku juga seringkali berfikiran seperti itu. Mengganggap bahwa dunia ini adalah sebuah medan pertempuran yang harus dimenangkan, bukan sebuah jalan panjang yang ujungnya bahkan tidak pernah kita ketahui.

A man gazes at the Milky Way outside his house

Jika kita melihat alam sekitar kita, bumi, matahari, planet-planet, galaksi, kita menyadari bahwa kita hanyalah bagian sangat kecil dari apa yang kita sebut sebagai alam semesta. Bahkan, bintang terdekatpun dari kita tidak akan pernah dapat kita kunjungi dengan teknologi yang ada pada kita sekarang ini. Dengan kecepatan cahaya, berharap saja kita bisa mendapatkannya, kita akan sampai pada proxima centuri pada rentang waktu 4 tahun. Namun, sesuai dengan perhitungan Einstein, kita tidak akan pernah mampu mencapai kecepatan cahaya. Karena kita adalah materi, dan materi tidak akan pernah mampu menembus batas kecepatan cahaya.

Usia alam semesta yang kita tempati nyaris 13.4 milyar tahun. Sebuah angka yang sangat-sangat tua dibandingkan usia umat manusia yang rata-rata tidak lebih dari 80 tahun. Dalam usia tersebut, barangkali beberapa orang diantara kita akan memperoleh kegemilangan yang menyilaukan, sedangkan yang lainnya akan hidup dalam sebuah arus kehidupan yang sama. Sebenarnya, apa yang menjadi prioritas kita ketika hidup? Apakah menjadi manusia yang baik? Menjadi manusia yang berbakti? Menjadi seorang religius? Atau menjadi seorang oportunis?

Ketika alam semesta lahir, ia tidak mempunyai apapun. Ia tidak mempunyai cahaya, ia tidak mempunyai bintang, ia tidak mempunyai planet, apalagi sebuah galaksi. Ia hanyalah sebuah tempat mungil, tidak lebih dari sebesar biji beras, sangat padat, penuh potensi, panas dan sangat terasing. Tidak ada apa-apa di dalamnya, namun dari sebuah ketiadaan, keberadaan bisa terbentuk. Lalu munculah materi dan antimateri yang bertempur layaknya prajurit yang berperang di Thermophilia. Setelah itulah muncul materi-materi dasar yang ada di tabel periodik unsur, muncul juga bintang-bintang pertama dan kemudian setelah kematian bintang-bintang itu, munculah generasi bintang-bintang kedua atau ketiga seperti matahari yang menjadi pusat tata surya kita.

Continue reading

Piramida Gunung Padang

Posting lama dari aninditasaktiaji.blogspot.com

Dewasa ini banyak sekali muncul spekulasi tentang adanya piramida di kepulauan Nusantara ini. Beberapa diantaranya yang paling populer adalah piramida Sedahurip dan Gunung Padang. Banyak pro dan kontra mengenai kasus ini. Apakah benar bahwa peradaban itu memang benar-benar ada di masa lalu, atau semua itu hanyalah fenomena alam yang secara kebetulan mirip sekali dengan bentukan tangan manusia. Kasus semacam ini pernah terjadi di negara lain. Sebagai contoh adalah kasus piramida bosnia, yang dapat dilihat pada tautan berikut ini bosnian pyramid. Piramida Bosnia memang belum diakui secara internasional sebagai struktur rakasasa buatan manusia, karena masih butuh penelitian lebih jauh dan lebih mendalam untuk membuktikannya. Fenomena-fenomena piramid atau struktur raksasa yang diperkirakan buatan dari manusia tersebar di seluruh dunia. Masing-masing mempunyai keunikan sendiri dan patut untuk dipelajari lebih jauh.

Anindita Saktiaji Piramida Gunung Padang 01

 

Sketsa Piramida Gunung Padang – Jabar

Piramida Gunung Padang (atau lebih tepatnya kita katakan sebagai situs) mempunyai keunikan mereka masing-masing. Situs Gunung Padang telah lama diketahui sebagai taman megalitikum (taman batu yang diperkirakan sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat kuno). Namun keberadaannya sangat diabaikan dan dianggap sebagai taman megalitikum yang dibuat dengan teknik pembuatan rendah. Kini banyak sekali peneliti yang berusaha mengungkapkan bahwa situs tersebut tidaklah sesederhana itu. Situs ini dibuat mirip dengan teknologi yang mirip dengan manchu picu di Peru dengan usia lebih dari 3700 tahun sebelum masehi. Jika pernyataan itu benar, maka situs ini merupakan situs masif dengan teknologi tinggi terbesar dan tertua di dunia.

Continue reading

Indonesia Adalah Atlantis – Sebuah Konsekuensi Besar

Posting lama dari aninditasaktiaji.blogspot.com

Akhir-akhir ini semakin banyak saya dengar, baik dari media resmi maupun dari berbagai forum di internet bahwa bukti-bukti Indonesia adalah benua yang hilang, atlantis, semakin banyak. Dari mulai munculnya perhitungan ketinggian air laut di masa itu yang berkesimpulan bahwa paparan sunda yang sekarang ada di laut jawa merupakan daratan 11.000 tahun silam. Hingga ditemukannya kemungkinan-kemungkinan adanya piramida di berbagai tempat di Indonesia. Ini tentu merupakan kabar gembira bagi segenap Bangsa Indonesia karena ternyata kita adalah salah satu pewaris kebudayaan paling luhur di dunia, meskipun belum terbukti 100%. Semua ini tentu akan mempunyai dampak baik langsung maupun tidak langsung bagi kita. Akan saya bahas beberapa dampak yang mungkin muncul jika teori ini menjadi sebuah kebenaran.

Anindita Saktiaji Atlantis Indonesia

Pertama, kita menyadari bahwa kita bukan lagi bangsa terbelakang. Selama ini jika kita berpikir dan membanding-bandingkan kemampuan dan budaya bangsa kita, tentu kita akan berpikiran bahwa kita adalah bangsa nomor 2 di dunia, atau bahkan nomor 3. Itu wajar bagi sebuah bangsa yang pernah dijajah selama beratus-ratus tahun, sehingga rasa percaya diri dan rasa bangga sebagai bangsa sangat tipis, atau bahkan tidak ada. Tentu hal ini berbeda dengan bangsa-bangsa eropa yang rata-rata tidak pernah di jajah, kecuali dalam masa pendudukan oleh bangsa lain selama beberapa puluh tahun saja di dalam sejarahnya. Jika benar bahwa kita adalah pewaris sebuah bangsa besar di masa lalu, tentu saja rasa percaya diri kita akan meningkat. Tidak menutup kemungkinan jika kemudian bangsa lainpun akan lebih menaruh rasa hormat kepada kita.

Kedua, dengan menyadari bahwa kita adalah bangsa besar, maka kita akan mempunyai semangat lebih untuk maju. Tidak heran bangsa China dan Jepang begitu cepat berkembang karena mereka melihat kejayaan masa lalu mereka sebagai titik balik keinginan mereka untuk maju. Begitu juga dengan bangsa Jerman dan Russia pada masa perang dunia ke-2, bangsa Inggris dan Perancis pada masa Renaisans. Mungkin, sekarang lebih tepat kalau kita menyebutkan bahwa, sekaranglah masa kita untuk bergerak. Dengan berpijak bahwa nenek moyang kita pernah melakukan sesuatu yang besar, maka kita pasti akan lebih termotivasi untuk berbuat yang lebih baik.

Continue reading

Ketika Teknologi dan Manusia Tidak Ada Lagi Pembatas

Manusia menciptakan teknologi untuk mempermudah kehidupannya. Kita menciptakan kapak untuk mempermudah berburu binantang, membela diri dan memotongi pohon (untuk dijadikan hunian, senjata, maupun bahan bakar). Kita menemukan api dan menyebarkannya untuk dari sekedar mempermudah penglihatan kita di malam hari hingga membantu kita dalam memasak makanan secara lebih baik dan lebih sehat. Kita menciptakan masyarakat, adat, dan (hingga dalam batasan tertentu) agama untuk mendefinisikan tingkah laku yang benar atau buruk. Seluruh ciptaan manusia selama ini mempunyai ciri yang sama, kita lahir tanpanya dan kemudian mati juga tanpanya. Namun, baru-baru ini ada sebuah diskusi menarik yang menyatakan bahwa, bagaimana jika kita bisa mati dengan membawa teknologi?

Anindita Saktiaji Human Technology

Tentu saja, mati membawa teknologi itu bukan berarti kita membawa laptop kita ke alam baka, dimana kita bisa bermain game online di sana atau chatting dengan teman dan sahabat kita yang (barangkali) masih hidup. Mati membawa teknologi lebih diartikan dengan mentransfer kehidupan kita ke dalam bentuk digital. Dimana setiap momen, ingatan, rasa, keputusan, pemikiran, dan anggapan akan diubah ke dalam bentuk data. Singkat kata, kita merubah fisik tubuh menjadi sebuah objek biner yang dapat ditransfer, disebarluaskan, diperbanyak, dan juga disimpan untuk kebutuhan di masa mendatang.

Selama ribuan tahun, manusia meninggalkan jejak pemikirannya dengan tulisan yang ia buat di batu, bambu, ataupun kertas. Beberapa dasawarsa ini, orang barangkali dapat pula meninggalkan jejaknya pemikirannya dalam bentuk digital. Lewat tulisan-tulisan yang ia post di mikro blog, blog, jurnal, group, mailing list maupun website. Keseluruhan ide diatas meskipun medianya berbeda, namun tetap mempunyai ciri yang sama. Orang yang telah meninggalkan tulisan itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Lalu bagaimana jika kita bisa menemukan cara untuk membuat pemikiran manusia itu ada selama-lamanya.

Continue reading

Sang Presiden

Sebentar lagi, Indonesia akan kembali memilih pemimpin baru. Beberapa nama kandidat sudah bertebaran dan prediksi sudah dijalankan. Pemimpin yang baru ini nantinya akan mengarahkan dua ratus juta lebih manusia Indonesia yang multi kultur, multi agama, multi keyakinan, dan multi pandangan. Barangkali, tidak ada negara manapun di dunia ini yang mempunyai tingkat kompleksitas sosial sebesar dan sedalam negera kita. Menyatukan masyarakat yang kompleks tersebut adalah tugas yang begitu sulit. Tugas yang belum pernah sepenuhnya berhasil dilaksanakan oleh Presiden-Presiden Indonesia sebelumnya. Meskipun mereka adalah Sukarno maupun Suharto.

Presiden Indonesia

Presiden Indonesia 1945 – 2014

Menjadi Presiden di negara seperti tempat kita tinggal tidak hanya membutuhkan kecerdasan lebih saja. Tidak juga seseorang yang mempunyai kemauan yang kuat ataupun kerja keras yang maksimal. Tidak juga dengan kombinasi ketiga-tiganya.

Masyarakat negara kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, mempunyai kemauan dan pekerja keras, namun juga pemimpin yang dapat menjadi sosok ‘Bapak’. Indonesia adalah bangsa yang relatif baru terbentuk setelah negara ini merdeka. Sebelumnya, kita tidak pernah sadar bahwa kita bisa menyatukan kekuatan kita, kecuali segelintir kelompok-kelompok pergerakan nasional yang di kemudian hari menjadi bibit bagi pendirian bangsa.

Sosok seorang pemimpin yang berwatak kebapakan, orang yang mampu memberikan contoh, bukan orang yang mampu memerintah saja adalah sosok yang begitu ideal bagi bangsa Indonesia ini. Mengapa? Karena kebanyakan dari bangsa ini masih belum tahu arah dan tujuan bersama sebagai sebuah bangsa.

Continue reading