Harta, Tahta, Wanita Adalah Sebuah Kesatuan?

Ada pepatah mengatakan bahwa 3 godaan terbesar dari laki-laki adalah Harta, Tahta, dan Wanita. Ketiganya disebut-sebut sebagai biang keladi terhadap kehancuran maupun kebangkitan dari seorang laki-laki. Memang, banyak fakta yang sudah membuat pepatah itu nyata. Seorang lelaki yang tergoda akan ketiga hal itu akan luluh dan kehilangan arah. Namun ada satu hal yang unik, pernahkah anda berfikir kalau ketiga elemen tersebut merupakan satu kesatuan?

Harta Tahta Wanita

Dari beberapa kasus yang pernah saya amati, seorang laki-laki yang membiarkan dirinya tergoda akan salah satu dari tiga “Ta” itu akan berefek kepada “Ta” yang lain. Yap, one for all, and all for one. Ketiga elemen tersebut merupakan efek domino yang membuat laki-laki menjadi kehilangan arah.

Kita ambil contoh, misalkan seorang laki-laki sudah mempunyai harta di genggaman tangannya. Maka ia akan mudah sekali tergoda untuk membelanjakan harta itu untuk mendapatkan wanita. Terlepas dari dia sudah punyai istri atau wanita yang ia miliki maupun tidak. Hal itu alamiah dan merupakan hasrat seorang laki-laki. Namun, bukan berarti juga bahwa saya mendukung hal itu. Atau dia dapat juga membelanjakan hartanya untuk memperoleh kekuasaan yang jauh lebih besar lagi. Entah kekuasaan itu dari segi bisnis, birokrasi, maupun pengaruh di masyarakat.

Apalagi jika seorang laki-laki mempunyai tahta. Tahta membuat akses ke harta dan wanita lancar bukan main. Seorang yang mempunyai tahta, misalkan saja seorang raja. Maka ia akan dapat menarik pajak, membuat undang-undang, melakukan peperangan demi untuk menambah harta miliknya. Raja-raja di dunia juga dikenal mempunya Harem, atau tempat dimana ia mempunyai banyak wanita yang mampu menghiburnya. Tak ada yang menentangnya, karena dia adalah seorang raja.

Lalu bagaimana dengan wanita? Apakah mempunyai wanita juga mampu mendorong seorang laki-laki untuk mendapatkan yang lain?

Continue reading

Renewable Energi Untuk Listrik dan Indonesia

Indonesia melalui PLN dan rekanan saat ini masih memproduksi 17,000 MW listriknya dari pembangkit listrik bertenaga batu bara. Jumlah ini setara dengan kurang lebih 65% dari total produksi listrik Indonesia. Diesel memberi kurang lebih 20% atau sebesar 7,000 MW pasokan listrik nasional, dan sisanya merupakan kombinasi dari Geothermal, hydro, dan lain-lain.

Untuk kedepan, tantangan yang dihadapi Indonesia pada umumnya dan PLN pada khusunya bukan hanya memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat. Tapi juga membuat sumber energi listrik seramah dan seaman mungkin untuk digunakan. Dan jika memungkinkan, energi listrik itu haruslah yang bersumber dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui.

Nuklir barangkali menjadi sebuah alternatif yang sangat diimpi-impikan. Namun tren global sekarang ini justru menunjukkan bahwa penggunaan energi nuklir bukan lagi sebuah primadona. Jerman sebagai contoh, telah menutup beberapa reaktor nuklirnya sehingga total penggunaan energi nuklir negara itu sudah berkurang dari 22% di tahun 2010, hanya menjadi 17% di tahun 2011 dan terus berukurang hingga saat ini.

Sebanarnya tanpa energi nuklir, banyak sekali energi-energi alternatif yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik. Di posting blog ini, mari kita coba beberapa potensi yang mungkin diterapkan di Indonesia:

Geothermal

Untuk pembangkit listrik geothermal, Indonesia dan PLN dibilang boleh berbangga diri karena kita sekarang ini menempati posisi ketiga terbesar di dunia dibawah USA dan Filipina.  Produksi listrik Geothermal Indonesia mencapai 1197 MW pada tahun 2010, sedikit lebih tinggi daripada produksi pada tahun 2007 yaitu 992 MW.

Energi Geothermal

Energi Geothermal

Ada rencana 44 tambahan pembangkit listrik hingga tahun 2025. Sebuah rencana yang cukup ambisius. Jika terwujud, ada 4000 MW lagi tambahan energi untuk Indonesia yang dapat digunakan. Atau kurang lebih 12% dari kebutuhan listrik nasional sekarang ini.

Continue reading

Skala Manusia vs Alam

Kita pasti sering berfikir bahwa kehidupan kita adalah segala-galanya. Apa yang kita dapatkan dari kelahiran hingga kematian adalah sebuah konsekuensi logis kehadiran kita di alam semesta ini. Aku juga seringkali berfikiran seperti itu. Mengganggap bahwa dunia ini adalah sebuah medan pertempuran yang harus dimenangkan, bukan sebuah jalan panjang yang ujungnya bahkan tidak pernah kita ketahui.

A man gazes at the Milky Way outside his house

Jika kita melihat alam sekitar kita, bumi, matahari, planet-planet, galaksi, kita menyadari bahwa kita hanyalah bagian sangat kecil dari apa yang kita sebut sebagai alam semesta. Bahkan, bintang terdekatpun dari kita tidak akan pernah dapat kita kunjungi dengan teknologi yang ada pada kita sekarang ini. Dengan kecepatan cahaya, berharap saja kita bisa mendapatkannya, kita akan sampai pada proxima centuri pada rentang waktu 4 tahun. Namun, sesuai dengan perhitungan Einstein, kita tidak akan pernah mampu mencapai kecepatan cahaya. Karena kita adalah materi, dan materi tidak akan pernah mampu menembus batas kecepatan cahaya.

Usia alam semesta yang kita tempati nyaris 13.4 milyar tahun. Sebuah angka yang sangat-sangat tua dibandingkan usia umat manusia yang rata-rata tidak lebih dari 80 tahun. Dalam usia tersebut, barangkali beberapa orang diantara kita akan memperoleh kegemilangan yang menyilaukan, sedangkan yang lainnya akan hidup dalam sebuah arus kehidupan yang sama. Sebenarnya, apa yang menjadi prioritas kita ketika hidup? Apakah menjadi manusia yang baik? Menjadi manusia yang berbakti? Menjadi seorang religius? Atau menjadi seorang oportunis?

Ketika alam semesta lahir, ia tidak mempunyai apapun. Ia tidak mempunyai cahaya, ia tidak mempunyai bintang, ia tidak mempunyai planet, apalagi sebuah galaksi. Ia hanyalah sebuah tempat mungil, tidak lebih dari sebesar biji beras, sangat padat, penuh potensi, panas dan sangat terasing. Tidak ada apa-apa di dalamnya, namun dari sebuah ketiadaan, keberadaan bisa terbentuk. Lalu munculah materi dan antimateri yang bertempur layaknya prajurit yang berperang di Thermophilia. Setelah itulah muncul materi-materi dasar yang ada di tabel periodik unsur, muncul juga bintang-bintang pertama dan kemudian setelah kematian bintang-bintang itu, munculah generasi bintang-bintang kedua atau ketiga seperti matahari yang menjadi pusat tata surya kita.

Continue reading

Atheis vs Religius

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan sebuah pertanyaan celetukan dari seorang kawan. Sebuah pertanyaan yang barangkali jarang kita akan temui dalam keseharian kehidupan bermasyarakat di negara kita. Inti dari pertanyaan itu kurang lebih seperti ini “lebih baik mana, menjadi seorang atheis yang tidak pernah mengeluh dan menyalahkan Tuhan atau menjadi seorang religius yang setiap hari mengumpat dan menyalahkan Tuhan atas kemalangan yang menimpa dirinya?”

religion-and-morality-matrix

Kebanyakan orang di Indonesia masih mengganggap bahwa Atheisme itu sama halnya dengan komunisme. Sesuatu yang dicap tak bermoral oleh negara dan harus (kalau bisa) dibumihanguskan. Dan kita terbiasa berpikir bahwa orang yang dekat dengan agama pastilah mempunyai moral yang baik, kelakuan yang sopan, dan pemikiran yang terkontrol. Benarkah selalu demikian?

Baik orang beragama maupun tidak beragama sebenarnya mempunyai indikator yang pasti di dalam dirinya mengenai apa yang seharusnya ia lakukan dan tidak seharusnya ia lakukan. Indikator tersebut adalah apa yang biasa kita definisikan sebagai “nurani”. Sebuah ukuran universal yang menilai apakah sebuah perbuatan itu pantas atau tidak pantas kita lakukan. Nurani memang bukan sebuah ukuran matriks yang pasti, namun setiap manusia paling tidak mempunyai rentang skala di mana nurani itu dapat diterima dimanapun, kapanpun, dan dalam situasi apapun.

“Agama itu ada untuk memperbaiki pikiran dan mengontrol diri, bukan untuk menyalahkan orang lain”, setidaknya itulah kata Dalai Lama. Dan ketika kita melihat kehidupan beragama sekarang ini, agaknya prinsip itu benar-benar harus kita pegang jika anda adalah seseorang yang mengaku religius. Jika tidak, anda akan terjebak ke dalam pusaran saling tuding. Dimana antar penganut agama, atau di dalam intern penganut agama itu sendiri, akan saling menyalahkan dan mengganggap diri mereka itu lebih benar daripada pihak lainnya. Sementara Atheisme lahir dari sebuah kekecewaan kehidupan keagamaan yang kolot, konservatif, dan carut-marut seperti yang telah disebutkan di atas.

Continue reading

Kebebasan Memilih dan Pemilu

Pemilu dalam beberapa minggu ke depan barangkali akan menjadi bahan pembicaraan yang hangat atau kalau tidak justru panas di negeri kita. Ratusan atau bahkan ribuan calon legislatif berebut kursi untuk menjadi dewan perwakilan masyarakat baik di daerah maupun di pusat. Sebuah pesta yang meriah, maksudku, ini benar-benar sebuah pesta yang meriah!

Pemilu

Total dana pemilu 2014 mencapai Rp 24 T, sebuah angka yang cukup fantastis bagi saya yang bahkan belum pernah mempunyai angka tabungan yang cukup besar. Dana tersebut belum termasuk dana masing-masing partai dan calon yang akan bertarung di dalam pemilu itu sendiri. Sebuah perputaran uang yang cukup mencenggangkan. Namun, saya tidak akan menuliskan lebih lanjut tentang hitung-hitungan dana tersebut. Karena pertama, saya bukan ahli dalam bidang politik, kedua saya tidak ahli dalam menghitung uang, dan ketiga adalah saya ingin membahas permasalahan yang lainnya.

Di tahun 2009, angka pemilih yang mengikuti pemilu cukup besar, 104 juta orang. Namun, angka tersebut terlihat begitu memilukan ketika disandingkan dengan kata-kata “sementara itu 60,7 juta pemilih lainnya memilih untuk golput.” Jadi, 35% orang yang mempunyai hak pilih memutuskan untuk tidak menggunakan hak suaranya. Saya sendiri termasuk orang yang ikut memilih di dalam pemilu tahun 2009, dan waktu itu saya mempunyai harapan yang cukup besar tentang pergerakan arah negeri ini nantinya. Namun, agaknya saya harus menurunkan drastis harapan saya di waktu itu.

Banyak yang mempertanyakan, apakah golput itu layak di dalam sebuah negara demokrasi seperti Indonesia. Well, tergantung dari perspektif dari masing-masing penjawabnya. Namun, jika kita mengutamakan kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul seperti yang ada di dalam undang-undang dasar. Maka saya akan menjawab bahwa golput itu sebenarnya boleh, dan mungkin malah juga perlu untuk diperhitungkan (dalam artian ditampilkan juga sebagai akumulasi suara – meskipun tidak menjadi bagian dari penentu pemenang pemilu).

Tidak memilih, itu sama saja dengan abstain pada saat rapat penentuan kebijakan (entah itu ada di DPR maupun hingga pada rapat di balai desa). Setiap orang yang tidak memilih pasti mempunyai alasan sendiri, sama persis dengan alasan mengapa orang itu memilih. Singkatnya, kedua belah pihak sama dalam hal dasar teori, namun berbeda dalam hal aksi. Jika memang keduanya mempunyai dasar di dalam UUD, mengapa banyak yang menghujat pihak yang tidak menyalurkan suaranya?

Continue reading

A New Columbian Era

Cristoforo Colombo atau yang lebih dikenal sebagai Colombus dikenal sebagai penjelajah paling visioner di masa abad pertengahan. Dia memang bukanlah orang yang menemukan Amerika, tempat di mana kolonialisasi bercokol dengan kuatnya, namun dialah yang memungkinkan interaksi antara dunia barat dan benua amerika berlangsung secara lebih intens. Masa itulah yang kemudian mendorong eksplorasi besar-besaran oleh bangsa-bangsa besar di Eropa untuk memperebutkan tanah maha luas yang membentang di cakrawala.

Colombus membuka mata Eropa yang kemudian membawa mereka untuk menjelajah lebih jauh lagi, ketempat di mana peradaban-peradaban tidak pernah saling berinteraksi satu sama lain. Sebuah hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Interaksi tersebut yang menimbulkan keuntungan di satu pihak dan bencana di pihak lain. Bangsa Eropa misalnya, memperoleh keuntungan luar biasa dari tambang-tambah emas dan perak, tembakau, jagung, dan budak. Namun kemusnahan negara-negara di dunia baru merupakan bencana yang tidak dapat terelakkan.

Sekarang, kita menghadapi dunia yang sama sekali baru. Nyaris tidak ada lagi batas antara satu wilayah dengan wilayah yang lain (kecuali pembatas ideologi, adat, dan sudut pandang yang sampai saat ini belum bisa dihubungkan). Kita dapat berpergian ke setipa sudut dunia tanpa menuai ketakutan di penjelajah di masa lalu. Benarkah tidak ada sudut dunia yang dapat kita jelajahi lagi?

Jawabannya adalah, tergantung dari definisi kita tentang dunia. Dunia (bukan bumi atau dalam inggris ‘earth’ not world) dahulu merupakan tempat di mana kita hidup, bukan planet. Di dalam agama, jika kita mati, maka kita akan meninggalkan kehidupan dunia, bukan kehidupan planet bumi. Karena kita hidup di alam semesta, dunia kita adalah ujung ke ujung alam semesta. Kita akan mencoba untuk menemukan a new world, sebuah dunia baru. Yang di mana setiap tempatnya akan berbeda dari dunia-dunia kita sekarang.

Beberapa orang pasti bertanya-tanya, kita hidup di alam semesta yang serba luas, dan sampai sekarang, kita masih tetap terjebak di dalam planet bumi yang penuh sesak. Mengapa kita tidak mampu untuk pergi dari bumi ini, mengapa sampai saat ini kita belum mampu menjelajah jauh ke alam semesta yang membentang di mata kita setiap malamnya?

Sebenarnya, ada dua langkah untuk menjelajahi alam. Pertama, kita harus melihat ke tempat yang benar-benar ingin kita tuju. Dan apakah tempat yang ingin kita tuju? Apakah itu ujung alam semesta tempat kita tinggal? Atau apakah ia ada di dalam unsur paling dalam yang ada di alam semesta? Lebih jauh dari atom, lebih jauh dari elektron, lebih jauh dari sub atomic particle? Atau apakah kita ingin sesuatu yang jauh lebih dalam lagi, di dalam pikiran kita?

Continue reading