Indonesia in Military Balance 2013 – 2014

From: The Military Balance IISS

Indonesia’s efforts to improve its armed forces’ capabilities are guided by the notion of a Minimum Essential Force (MEF), developed after concern that defence-funding levels in the 2000s had fallen below acceptable levels. Political and military leaders in Jakarta recognise the need to provide more substantial defences against external threats to Indonesia’s extensive maritime interests. But they are also aware of the need to avoid being entrapped in a regional arms race and unduly diverting national resources from crucial social and developmental spending.

Indonesian military troops stand in form

Civilian governments in Jakarta over the past decade have found it politically expedient to expand naval and air capabilities, as this has moved resources and influence away from the army, which dominated Indonesian politics from 1966–98 under President Suharto. However, the army has sought to retain its extensive territorial structure, which acts as an apparatus for intelligence-gathering and, its critics allege,indirect political influence throughout Indonesia.

The army has also worked to keep its role in maintaining internal security. The separatist wars in Timor Leste and Aceh have been resolved, via independence and political autonomy respectively, but a separatist struggle continues in West Papua and Indonesia’s armed forces are involved in suppressing this uprising.

Strategic relations

Indonesia’s broad strategic alignment since the mid-1960s has been towards the West, although the country remains non-aligned. Western military sanctions during Indonesia’s occupation of Timor Leste between 1975–99 significantly affected the international outlook of its political and military elites. One outcome of this is Indonesia’s present reluctance to depend completely on Western sources of military equipment. This has led Jakarta to continue buying equipment from diverse sources, while using technology-transfer agreements with foreign suppliers to develop its defence industry.

During 2011–12, Indonesia reached agreement with the US on the supply of 24 F-16C/D combat aircraft. It will also maintain its Russian-supplied Su-27s and Su-30s while participating in South Korea’s K-FX project to develop an advanced combat aircraft.

Continue reading

Europa Universalis 4: Sebuah Game Strategi yang Membuat Anda Melek Sejarah

Paradox Entertaiment kembali meluncurkan seri terbaru Europa Universalis 4 pada Agustus 2013 dan terus merilis patch terbarunya hingga ada mod Wealth of Nations yang meluncur pada tanggal 29 Mei 2014 kemarin. Seperti seri Europa Universalis sebelumnya, game ini bergenre RTGS atau Real Time Game Strategy yang lebih mempertimbangkan aspek strategi daripada aksi dalam memainkannya. Anda diminta untuk memilih salah satu dari sekian banyak negara di dunia yang ada antara tahun 1444 hingga 1821 dan memainkannya. Setiap negara mempunyai tantangan dan tingkat kesulitan masing-masing dalam memainkannya, dan setiap misi yang anda ingin capai mempunyai konsekuensi tersendiri terhadap sejarah yang akan terukir.

Anindita Saktiaji - Europa Universalis

Inti dalam game ini adalah, apakah anda mampu mengubah sejarah? Misalkan saja, anda bermain sebagai negara Ottoman Empire atau Turki sekarang ini. Mampukah Ottoman Empire itu menaklukan Vienna pada tahun 1683? Atau bahkan menusuk jauh lebih dalam ke jantung Eropa. Atau, misalkan saja Anda bermain sebagai Spanyol, mampukah Anda mengkolonialisasi seluruh benua Amerika sebelum negara-negara eropa lainnya datang dan berebut kekuasaan kolonial mereka masing-masing di belahan Amerika Utara?

Tentu menarik sekali ketika kita dapat membuat sebuah perubahan sejarah dengan menggunakan game ini. Saya sendiri memainkan beberapa negara di dalam game ini. Dari mulai Nippon sampai Majapahit. Barangkali anda sekalian bertanya, Wait what? Majapahit? Ya, game ini menyediakan juga beberapa negara di Nusantara yang bisa dimainkan seperti Majapahit, Mataram, Banten, Aceh, Brunai, dan Malacca.

Namun, ada satu kelemahan di sini, luas wilayah dan timing daerah kekuasaannya kurang tepat. Misalkan, Brunai menguasai seluruh Kalimantan tanpa terkecuali pada tahun 1600an, Aceh menguasai seluruh sumatera pada tahun 1500an, Mataram hanya menguasai sedikit bagian dari pulau jawa sedangkan wilayah lainnya adalah tanah kosong yang dianggap dihuni oleh kaum primitive (mirip dengan benua Amerika, Australia, dan Polinesia). Padahal di seluruh pulau Jawa jelas-jelas sudah ada pemerintahan yang tetap dan kerajaan yang berkuasa di waktu itu.

Continue reading

Mengapa Jerman Babak Belur Di Soviet?

Dalam serangan Blitzkrieg selama dua tahun pertama Perang Dunia Ke 2, NAZI Jerman seperti tak terhentikan. Satu per satu negara Eropa tumbang seperti domino yang berjatuhan. Perancis yang bahkan mempunyai armada perang terbesar di dunia kala itupun tidak mampu berbuat banyak. Andaikan Inggris tidak dibatasi dengan laut atau andaikan Jerman mempunyai perkapalan yang cukup, maka negara Victoria itu pun barangkali akan bertekuk lutut pertengahan tahun 1941. Namun, mengapa tiba-tiba kekuatan mesin perang Jerman yang kokoh itu tiba-tiba berhenti di tahun 1943 di sebuah kota kecil bernama Stalingrad?

Operation Barbarossa

Operasi Barbarossa – Jerman Menyerbu Uni Soviet (1941)

Kekuatan Jerman di awal perang memang menggagumkan, tentara dan Jendral merekapun terlatih dengan begitu baiknya. Hal ini bukan karena pengaruh NAZI yang sebenarnya baru berkuasa pada tahun 1933, namun lebih karena tradisi militer mereka yang panjang.

Prussia (kerajaan Jerman pada abad pertengahan hingga 1871) adalah salah satu kerajaan Eropa dengan pelatihan profesional militer terbaik. Salah satu raja yang terkenalnya, Frederick The Great – Frederick Agung – Frederick Der Grosshe, adalah salah seorang reformis militer yang kemudian modelnya dianut oleh seluruh kerajaan di Eropa.

Tidak seperti Perang Dunia 1, Perang Dunia 2 benar-benar membuat Jerman babak belur di akhir Perang. Sebagai catatan saja, ketika Perang Dunia 1 (The Great War) berakhir, pasukan Jerman sebetulnya masih utuh. Tidak ada satupun wilayah Jerman (kecuali daerah koloni) yang diduki oleh musuh. Bahkan Jerman memperoleh kemenangan besar di Russia, membuat negara yang sedang dilanda pemberontakan Bolshevik itu menyerahkan wilayah2 yang kini kita sebut sebagai Polandia.

Namun, keadaan berbeda ketika Jerman memasuki Operasi Barbarossa tahun 1941. Jerman tidak sedang berperang dengan Perancis karena negara itu sudah setahun lamanya takluk di bawah bendera swastika. Dan 3,6 juta pasukan menyerbu beruntun ke medan perang Russia yang maha luas. Mencoba menaklukan negeri itu yang sama sekali tidak pernah tertaklukan di dalam sejarah (kemenangan Jerman atas Rusia pada Perang Dunia 1 lebih disebabkan karena konflik internal – dan Jerman sama sekali tidak menyerbu Rusia).

Continue reading

5 Sebab Mengapa Perang Dunia 2 Harus Terjadi

Selama ini kita mendengar bahwa Perang Dunia ke 2 terjadi karena perlombaan senjata dan ideologi yang cukup sengit baik di Eropa maupun Asia. Negara otoriter melawan negara demokrasi yang berbasis kerakyatan. Namun sebenarny Perang itu sendiri tidak dapat dinilai secara hitam dan putih. Di Jerman misalnya, NAZI sendiri berhasil mengambil alih tampuk kepemimpinan lewat sebuah pemilu demokratis. Untuk itulah, mari kita bahas beberap sebab Perang Dunia ke 2 yang jarang kita temui di buku-buku sejarah:

Sistem Pertanian

Selama berabad-abad, manusia menggandalkan lahan garapan yang subur dan ternak untuk menghasilkan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Traktor, pupuk buatan, dan mekanisme pertanian modern sama sekali belum tercipta. Memasuki abad baru, kebutuhan pangan dunia semakin meningkat. Manusia membutuhkan lahan baru untuk menghasilkan pangan yang cukup karena lahan lama sudah tidak mencukupi dan kalaupun masih mencukupi, lahan tersebut sudah tidak lagi sesubur yang dahulu.

Blut und BodenPropaganda Jerman: Blut Und  Boden

Masalah pangan ini jarang sekali dibahas dalam sejarah Perang Dunia ke 2, namun beberapa ahli menyatakan bahwa masalah pangan adalah pemicu terjadinya perang yang membunuh lebih dari 50 juta manusia itu. “Lanbensraum” adalah semboyan Jerman untuk menyatakan bahwa mereka mengginginkan untuk melakukan perluasan wilayah. “Blut und Boden” atau tanah dan darah yang merupakan gerakan pekerja terutama bidang agrikultur.

Continue reading

Apakah NAZI Ingin Menguasai Dunia?

Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau yang sering disebut sebagai NSDAP adalah sebuah partai pekerja di Jerman pada era tahun 1920an hingga 1945. Partai ini begitu terkenal setelah seorang bekas kopral yang menyandang Ritterkreuzz selama Perang Dunia 1 maju ke tampuk pimpinannya. Dialah Adolf Hitler yang mempunyai visi untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme Jerman yang sempat terpuruk. Pada tahun 1933, setelah perjuangan panjang akhirnya sang pemimpin partai yang kemudian disebut NAZI itu terpilih menjadi Kanselir Jerman. Jerman yang pada waktu itu tengah terpuruk dalam krisis yang berkepanjangan (bahkan harga sepotong roti bisa mencapai 5 milyar Mark) akhirnya perlahan-lahan bangkit. Tahun 1936, Jerman akhirnya mampu duduk di jajaran 5 besar ekonomi industri terkuat di dunia.

Nazi Expansion

Peta NAZI-Jerman 1933-1939

NAZI mulai membuat kegemparan dengan menginvasi Rheinland pada tahun 1936. Rheinland adalah sebuah wilayah Jerman yang diberikan kepada Perancis setelah kekalahannya pada Perang Dunia 1. Wilayahnya tidaklah luas, namun aksi itu begitu menggemparkan dunia menggingat Jerman masih terikat pada perjanjian Versailles. Hitler akhirnya memutuskan bahwa Jerman tidak lagi tunduk pada perjanjian yang benyak merugikan Jerman tersebut.

Satu per satu wilayah Holy Roman Empire (Kekaisaran Jerman pada abad pertengahan) dipersatukan kembali di bawah bendera NAZI. Austria di aneksasi pada April 1938, menyusul kemudian saarland dan lalu seluruh Cheko. Sampai sejauh  ini, tidak ada kontak bersenjata yang terjadi. Militer Austria misalnya, justru dengan sukarela bergabung dengan Wehrmacht dan menjadi satu kesatuan dengannya.

Setelah kota Memel di aneksasi pada tahun 1939, Jerman melanjutkan aksinya dengan melakukan claim terhadap Danzig dan wilayah di sekitarnya. Kota Danzig merupakan kota Jerman waktu Kekaisaran Prussia masih berdiri hingga akhir Perang Dunia 1. Ia sekarang menjadi pembatas antara Jerman Prussia Timur dengan wilayah Jerman lain di barat (lihat peta). Danzig barangkali menjadi salah satu wilayah terakhir yang kana di klaim oleh Jerman untuk mewujudkan Labensraum.

Continue reading

5 Inovasi Selama Perang Dunia 2 Yang Mengubah Masa Depan Manusia

Yang ada di pikiran kita ketika membayangkan Perang Dunia Ke 2 barangkali hanya melulu tentang pertempuran, kekejaman perang, politik, dan penderitaan. Namun perang yang begitu rumit dan kompleks tersebut ternyata juga menyimpan beragam jenis hal yang menggagumkan. Bukan hanya di bidang militer, namun juga bidang-bidang lain yang sering kita temui sehari-hari.

Salah satu aspek Perang Dunia 2 yang tidak pernah ditemui dalam perang-preang sebelumnya adalah adanya unsur inovasi. Inovasi adalah sebuah hal yang agak tidak lazim dalam sejarah pertempuran. Namun di perang ini, inovasi menjadi sebuah titik kunci untuk memenangkan Perang. Tanpa adanya inovasi, perang barangkali akan sama dengan perang-perang eropa di tahun-tahun sebelumnya.

Berikut beberapa unsur inovasi yang menjadi hasil output Perang Dunia 2 antara lain:

Assembly Line Production (Mass Production)

Assembly Line Production tidak ditemukan pada saat Perang Dunia Ke 2, namun pada saat Perang Dunia 2 lah model produksi ini digunakan secara luas. Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Russia, dan Jepang berusaha meningkatkan jumlah produksi mereka akan senjata dan segala peralatan pendukungnya. Tujuannya hanya satu, untuk memenangkan perang secepat mungkin. Dengan adanya assembly line, maka produksi masal senjata dan logistik dapat dilakukan dengan begitu cepat.

Assembly Line adalah terobosan yang luar biasa. Amerika dan Soviet masing-masing mampu membuat puluhan ribu tank untuk menghentikan laju gerak mesin perang NAZI. Amerika terutama akhirnya mampu membuat ribuan pembom untuk meluluh-lantakan kota-kota Jerman dan Jepang hingga hanya tersisa menjadi abu.

Continue reading

Dirgahayu Indonesiaku Yang ke 68

Perayaan kemerdekaan Indonesia selalu menjadi momen yang istemewa. Terlebih lagi, di keluargaku, Ayah handaku juga berulang tahun di hari kemerdekaan Indonesia ini. Namun sayang, tahun ini, aku harus sudah jauh dari keluarga. Hidup merantau di Ibukota tercinta negara ini, Jakarta. Namun, itu tidak menggurangi semangat kebangsaan maupun hormat saya kepada bapak. Dan pada kesempatan tahun ini, saya menyempatkan diri untuk melihat secara langsung prosesi kemerdekaan Indonesia yang diadakan di Istana negara.

Persiapan Meriam Artileri 17 Agustus Istana Negara

Persiapan Meriam Artileri 17 Agustus Istana Negara

Saya berangkat pukul 8 pagi dari kos bersama rekan-rekan kerja saya. Kami menggunakan transportasi umum transjakarta yang ternyata berhenti di halte harmoni, kurang lebih 800m-1km sebelah utara dari Istana Negara. Tidak bisa lebih dekat, karena area di sekitar istana negara ditutup untuk jalur kendaraan. Begitu tiba, suasana cukup rama, walaupun tidak sampai benar-benar crowded. Beberapa tamu undangan dari kedutaan-kedutaan besar mulai hadir disana.

Persiapan Marching Band Dalam Rangka HUT RI 68 Istana Negara

Persiapan Marching Band Dalam Rangka HUT RI 68 Istana Negara

Untuk penonton masyarakat umum, tidak diperbolehkan untuk masuk pada area Istana, sehingga kami hanya melihat dari luar pagar. Namun, beberapa prosesi menarik justru terjadi di luar istana. Salah satunya adalah penembakan meriam menjelang detik-detik proklamasi dikumandangkan. Terdapat enam buah meriam dari Yonarmed 7 yang berjajar di seputaran lapangan Monas. Kaliber meriam tidak begitu besar, kemungkinan tidak lebih dari 100mm (saya kurang tahu persisnya berapa).

Continue reading